Kampus Pusat

Ujian Lisan Selesai, Ujian Tulis Menghadang

Alhamdulillah, ujian lisan telah selesai dan berlangsung dengan lancar. Meski banyak diantara santri yang dibuat panas dingin ketika melewati ujian lisan, mulai dari sebelum masuk ruangan sampai setelah melewati ujian lisan.

Pasalnya santri akan dibuat merinding sebab di dalam ruangan ada tiga penguji sampai empat penguji yang siap memberikan segudang pertanyaan untuk mereka. Meskipun begitu ujian lisan merupakan ujian yang seru, karena nilai ujian langsung dipasang di etalase (papan pengumuman) setelah semua ujian lisan pada pelajaran itu selesai.

Biasanya pemasangan nilai dilakukan oleh Ustadzah pengabdian saat santri sedang melakukan sholat dzuhur, sehingga ketika mereka pulang sholat nanti mereka akan berdesak-desakan demi untuk mengetahui nilai ujian mereka.

Malu pasti ada ketika nilai ujian mereka rendah, untuk itu ujian lisan merupakan perang mental bagi para santri, demi membentuk kepribadian yang bermentalkan baja. Karena percuama  hafal semua materi jika bermentalkan kerupuk, pasti semua yang dihafal akan hilang ketika bertatapan langsung dengan penguji ujian lisan. Untuk itu pembentukan mental telah ditanamkan sejak awal melalui latihan muhadhoroh (pidato) dua kali dalam satu minggu.

Setelah ujian lisan yang sangat menegangkan selesai, kini tibalah para santri mempersiapkan perang yang lebih seru lagi. Karena di zaman yang modern ini perang bukan lagi menggunakan senjata dengan mengangkat pedang ataupun tameng sebagai perlindungan, melainkan dengan mengangkat pena sebagai senjata dan otak sebagai mesinya.

Inilah yang dianggap perang otak bagi para santri untuk mendapatkan nilai terbaik di dalam raport, perang ini akan di mulai pada Ahad/09/Desember/2018. Yang akan diadakan di Gedung Aula PMDA.

Untuk mempersiapkan ujian yang sangat menegangkan ini para santri belajar dengan giat, ada yang bangun jam tiga malam untuk sholat tahajud dan melanjutkan belajar, ada juga yang belajar hingga larut malam sampai jam sebelas malam.

Selain para santri yang sibuk dengan belajar mereka para ustad pun sibuk mengawasi mereka belajar setiap malamnya. Ini adalah bentuk ketulusan dan rasa tanggung jawab untuk mendidik. Karena mendidik bukan sekedar memberi materi tetapi juga mengawasi bagaimana materi itu dicerna. Mendidik bukan hanya bicara, melainkan ikut mengajari, dan memberikan contoh dalam kesehariannya.

Baca Juga : 

Tags
Back to top button
Close
X