Kolom Ustadz

Ujian Lisan, Pendidikan Berharga Bagi Santri dan Ustadz

Beginilah ujian lisan (imtihan syafahi) bagi kami di Daarul Abroor, bukan cuma sekedar bagaimana menjawab soal-soal dari penguji lalu dapat nilai, apalagi sekadar yang penting masuk ujian gak peduli nilai.

Tapi ini tentang bagaimana mempersiapkan diri sebelum memasuki ruangan ujian, itu jauh lebih penting.

Belajar jauh-jauh hari, bangun malam untuk tahajud dan belajar tambahan. Kemana-mana bawa buku dengan prinsip dibaca, dipahami, dihafalkan.

Persiapan mental tak kalah penting sebab tidak sedikit yang katanya sudah menguasai, sudah mengerti, sudah hafal semua materi tiba-tiba hilang dan seolah memori dikepala menjadi kosong alias blank ketika memasuki ruang ujian.

It’s all about Mentality. Ya, mental dalam menghadapi ujian itu penting. Mentalitas yang terbangun kokoh ini nanti akan bermanfaat bagi mereka ketika sudah menjadi alumni. Mentalitas yang keras dalam menghadapi masalah, tak mudah putus asa juga tak pernah merasa paling di atas. Mental siap berjuang, mental keikhlasan, mental kesabaran, mental kejujuran.

Ustadz dan Ustadzah tak kalah penting, mereka sibuk hiruk pikuk tiap malam mengawas santri, dengan keikhlasannya mereka rela waktu kumpul dengan keluarga terpotong, rela waktu istirahat malam terpotong, rela waktu membaca dan menyaksikan berita di tv terpotong. Semua karena mereka tak ingin melihat santri lengah sedikit saja dari belajarnya. Tak ingin mereka melihat akhir ujian menjadi tangisan. Tak ingin mereka menjadi bersalah bergalah galah menyaksikan kegagalan meski hanya satu santri.

Ujian lisan, ujian yang penuh dengan pendidikan. Bagaimana tidak penuh dengan pendidikan, santri diuji satu persatu dengan penguji terkadang hingga 5 (lima) penguji yang terdiri dari Ustadz/Ustadzah dan kelas 6 KMI.  Di sinilah santri diuji, diuji otaknya, diuji hasil belajarnya, diuji kesiapannya dan yang terpenting diuji MENTALnya. Kelas 6 KMI juga diuji dan dididik. Dididik untuk membuat persiapan menguji, dididik menjadi penguji yang baik, dididik untuk menjadi tauladan yang baik.

Ujian lisan bagi ustadz dan ustadzah, bukan sekadar bagaimana melontarkan soal lalu santri menjawab. Bukan sekadar memberikan nilai pada blanko nilai lalu merasa sudah selesai. Tapi ini soal PENDIDIKAN. Santri diuji dan Ustadz/Ustadzahpun diuji. Diuji keikhlasannya, diuji amanahnya, diuji persiapannya, diuji kesabarannya, diuji keteladanannya, diuji juga Mentalnya. Ayat yang selalu jadi pegangan Ustadz dan Ustadzah Daarul Abroor dalam melaksanakan kegiatan di Pondok adalah:

إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها

“Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri.”

Dalam Ujian Lisan ada pendidikan. Dan beginilah Daarul Abroor mendidik kami.

Oral Examination isn’t only how to answer, but more than it. It is about how to prepare. It’s about sincerity. It’s about Mentality.

Mari kita selipkan do’a bagi kemajuan Daarul Abroor dalam setiap sujud simpuh kita kepada Rabb.

Tirtaharja, 5 Desember 2017 – Muhammad Nurul Ni’am

Tags

Daarul Abroor

Admin web Pondok Modern Daarul Abroor, Pesantren KMI satu-satunya di Sumatera Selatan.

Artikel terkait

Silahkan beri komentar...

Close