STOP…! JANGAN KATAKAN “REZEKI ANAK SHALEH”

Wajib Dibaca

SekPim
Sekretaris Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor.

dan Dia (Allah) lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa”. (Q.S. An Najm : 32)

Suatu hari, saya mendengar orang mengatakan “Rezeki Anak Shaleh”, dia mengatakan itu ketika mendapatkan rezeki. Sekilas perkataan tersebut sepele dan tidak jadi masalah, akan tetapi jika ditelusuri lebih dalam perkataan tersebut tidak sesuai dengan yang Nabi ajarkan. Nabi mengajarkan ummatnya untuk bersyukur ketika mendapatkan rezeki dengan mengucapkan kata “Alhamdulillahirabil ‘alamin”

Banyaknya orang yang suka berkata “Rezeki Anak Shaleh” ketika mendapatkan rezeki yang tak terduga, menjadikan hal tersebut selolah-olah menjadi biasa dan tidak masalah. Padahal mengatakan itu sebenarnya tidak diperbolehkan, meskipun hanya bercanda. Karena itu merupakan perbuatan memuji diri sendiri, dan termasuk perbuatan yang tercela.

Walaupun perkataan “Rezeki Anak Shaleh” yang dimaksud ditujukan kepada orang lain, maka hal tersebut pun tetap tidak diperbolehkan. Karena perkataan tersebut bentuk pujian yang berlebihan. Dulu ada orang yang memuji orang lain disisi Nabi saw kemudian Beliau bersabda : “Celaka kamu, telah memenggal leher sahabatmu, (diucapkan oleh Rasulullah saw sampai 3 kali)…………..”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Merasa Shaleh

Mengucapkan “Rezeki anak Shaleh” saat seseorang menerima hadiah atau mendapat rezeki yang lainnya, sebenarnya termasuk perbuatan tercela, karena kita tidak pernah tahu seberapa shaleh diri kita dan kita pun tidak akan bisa mengukur keshalehan orang lain. Mari kita coba bercermin, seperti kata pepatah: “dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu”. Rasanya ungkapan ini sangat cocok untuk menggambarkan hal tersebut.

Ungkapan “Rezeki anak Shaleh” memiliki dampak negatif baik ungkapan tersebut untuk diri sendiri maupun dimaksudkan untuk orang lain.

1. Ungkapan Ditunjukkan Kepada Diri Sendiri

Dalam surat An-Najm ayat 32, dijelaskan bahwa kita sebagai manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan jangan suka menganggap diri kita suci. Sekalipun kita rajin beribadah dan berbuat baik, jangan pernah menganggap diri kita sudah suci di depan Allah karena itu merupakan sifat orang sombong (takabur) dan ria.

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Surat ini menjelaskan larangan dari Allah kepada orang-orang beriman untuk tidak menganggap dirinya sudah baik ataupun suci (shaleh) dengan cara memuji dirinya sendiri di depan orang lain. Hanya Allah yang tahu mana orang yang betul-betul bertakwa.

2. Ungkapan Ditunjukkan Kepada Orang Lain

Ketahuilah bahwa, hati yang dipuji dan yang memuji keadaannya sama-sama  sulit untuk diketahui. Jika yang dipuji memang dasarnya orang yang suka pamer, tentu hal tersebut akan membuat dirinya besar kepala. Sebaliknya, jika yang dipuji tersebut orangnya rendah hati, pasti akan membuatnya malu. Karena dia meyakini bahwa dirinya adalah orang yang jauh dari kata-kata shaleh. Menjalankan rukun Islam saja masih compang-camping. Belum lagi amalan-amalan lain yang jauh dari kata cukup.

Sementara bagi pemuji, bisa saja karena perasaan iri dan dengki kemudian menuangkannya dalam ungkapan. Mengucapkan kata bernada bahagia, namun sebaliknya dengan hatinya. Jika pun mengucapkannya dengan hati riang atau senang, bukan berarti tak bisa menyesatkan. Dengan ucapan yang demikian, bisa membuat dia menjadi besar kepala.

Ingat keshalehan seseorang bukan diukur dari hadiah atau rezeki yang diperoleh. Keshalehan seseorang juga tak bisa diukur dari seringnya menerima keberuntungan. Begitu pun kesalehan seseorang tak bisa diukur dengan status-statusnya di media sosial.

Keshalehan seseorang hanya Allah Ta’ala yang tahu. Sementara orang lain akan mengukur dengan ungkapan hati yang tak (semestinya) harus ditulis di medsos. Cukupkan dengan kata yang sederhana: “BarakAllah, Alhamdulillah, SubhanAllah, atau MasyaAllah

Ketentuan Rezeki

Rezeki adalah perkara yang misteri dan penuh teka-teki. Walaupun demikian Allah dan Rasulullah menjelaskannya secara global. Sejatinya semua makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal, yang beriman maupun yang kafir, yang shaleh maupun yang tidak shaleh rezekinya telah dijamin oleh Allah.

Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.” (Q.S. Hud: 6).

Di dalam hadits dijelaskan bahwa Allah menentukann rezeki, ajal, amal, dan celaka atau bahagia. Begitu pula kaya dan miskin, sakit dan sehat, senang dan susah, termasuk juga ilmu dan amal shalih seseorang pun telah ditentukan. Rasulullah saw bersabda;

 “………. , kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rezeki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, ………….” (HR. Al Bukhari dan HR.Muslim)

Menenai kadar rezeki, dalam jumlah banyak ataupun sedikit adalah berdasarkan kehendak Allah. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu)………..” (Q.S Ar Rum: 37).

Berdasarkan dalil-dalil diatas bahwa rezeki tidak dihubungkan dengan keshalehan seseorang, karena Allah swt memberikan rezeki kepada semua makhluk baik tumbuhan, binatang, jin maupun manusia. Tanpa melihat apakah beriman atau kafir, shaleh atau pelaku maksiat, semuanya dijamin Allah. Allah memberi rezeki kepada orang yang Allah cintai dan kepada orang yang tidak Allah cintai. Allah juga menyempitkan rezeki terhadap orang yang Allah cintai maupunn orang yang tidak dicintai-Nya.

Ditulis Oleh : Al-Ustadz Asep Subandi

Kabar Terbaru

Pesan dan Nasehat Oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor Menjelang Liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Tak terasa tinggal menghitung hari, Bulan Suci Ramadhan akan meninggalkan umat islam semua. Itu artinya hari kemenangan segera tiba,...

Informasi Lainnya

X