Kolom Ustadz

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Kelemahan akal itu bangga diri dan emosi, Dan penyakit harta itu pemborosan dan perampokan Ali bin Tsabit

Sudah menjadi tabiat manusia, ia akan lebih konsumtif menghamburkan uang, manakala mulai mengenyam kehidupan yang mapan dan kemudahan ekonomi. Seolah-olah kekayaan kurang berarti banyak bila pemiliknya tidak mempergunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan kemewahan. Misalnya dengan banyak memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kurang penting baginya. Begitulah keadaan seseorang, ia lebih mudah beradaptasi dengan hidup enak ketimbang dengan hidup menderita.

Memang menjadi tipologi manusia, menghamburkan uang dan berfoya-foya saat berada dalam kondisi berada, menghindari gaya kesederhanaan dan keseimbangan.

Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”. (asy-Syûra: 27).

Bagaimanakah arti hidup sederhana menurut Islam? Berikut penjelasannya.

Sederhana itu Antara Bakhil dan Boros

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata sederhana diartikan, bersahaja, tidak berlebihan, pertengahan. Sedangkan sederhana menurut Allah sebagaimana dalam kandungan ayat, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (Al Isra’ 17 : 29)

Janganlah engkau bakhil lagi kikir, sehingga jarang atau tidak pernah memberi kepada siapapun. Dan jangan berlebihan dalam menggunakan harta, sehingga mengakibatkan pembelanjaannya di luar kemampuannya dan melebihi pendapatan yang diperolehnya. Karena dua hal ini menjadi sumber celaan.

Sederhana Bukan Berarti Melarat

Al-Hafizh Ibnu Hajar ketika ia menjadi seorang qadhi terkemuka, suatu hari ia pernah melewati sebuah pasar yang penuh keramaian. Ibnu Hajar datang dengan pakaian yang begitu menawan. Kemudian orang Yahudi menyergapnya. Orang Yahudi tersebut sedang menjual minyak panas, tentu saja pakaiannya penuh dengan kotoran minyak. Tampilan Yahudi tersebut usang dan penuh keprihatinan.

Sambil memegang kekang kuda, Ibnu Hajar ditanya oleh Yahudi tersebut, “Wahai Syaikhul Islam, engkau menyatakan bahwa Nabi kalian bersabda, “Ad-dunya sijnul mukmin, wa jannatul kafir (Dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang orang kafir).” Bagaimana keadaanmu saat ini bisa disebut penjara, lalu keadaanku di dunia seperti ini disebut surga?”

Ibnu Hajar memberikan jawaban, “Aku dilihat dari berbagai nikmat yang Allah janjikan untukku di akhirat, seakan-akan aku sedang di penjara. Sedangkan engkau wahai Yahudi dilihat dari balasan siksa yang pedih yang Allah berikan untukmu di akhirat, seakan-akan engkau berada di surga.” Akhirnya, orang Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Kita bisa pahami bahwa dunia itu bagi orang beriman adalah penjara. Maksudnya, ia dipenjara dan dikekang karena kenikmatan sejati baru diperoleh olehnya di akhirat. Sedangkan orang kafir dalam keadaan miskin apa pun, ketika di dunia masih mendapatkan nikmat. Di akhirat, yang ada baginya adalah siksa. Sehingga pantas disebut baginya di dunia adalah surga.

Kesederhanaan Hidup Rasulullah SAW Teladan untuk Kita

Banyak orang miskin berlagak sok kaya, dan ada juga orang yang kaya tapi sederhana. Ketahuilah, orang yang benar-benar kaya tidak banyak bicara, seperti orang yang berlagak punya. Berbicara sederhana manusia yang patut untuk kita jadikan teladan tidak lain yaitu Nabi Muhammad saw. Perjalanan hidup beliau adalah sebuah kehidupan percontohan bagi seluruh umat manusia. Sebuah model kehidupan ideal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta manusia di muka Bumi kepada manusia ciptaannya sepanjang sejarah kemanusiaan, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah” ( al-Ahzab : 21).

Sepertinya pikiran kita sudah terframe atau tersekat bahwa Rasulullah SAW digambarkan sebagai seorang yang sangat miskin, bahkan kebanyakan tokoh-tokoh utama Islam pun digambarkan sebagai orang-orang miskin. Inilah akibat terlalu mendominasinya aliran sufisme yang mengutamakan kemiskinan pada mayoritas kaum muslimin terutama sejak abad pertengahan.

Kalau kita mau membaca sejarah kehidupan Rasulullah saw, maka kita akan mendapati bahwa Rasulullah saw adalah seorang yang kaya namun dalam kehidupan beliau sederhana. Kepiawaian Nabi saw dalam berdagang memikat banyak investor Mekkah yang menitipkan hartanya untuk dikembangkan dengan sistem pembagian keuntungan. Perdagangan yang diwakilinya selalu mendapatkan keuntungan besar, sehingga banyak pengusaha yang ingin menjadikannya pekerja sebagai wakil perdagangannya. Semakin dewasa Muhammad saw dan semakin bijak, maka semakin banyak yang mempercayainya menjalankan usaha perdagangan. Pasar yang dikunjunginya pun bukan hanya Mekkah dan sekitarnya, namun beliau berdagang sampai ke Yaman, Syam, Bahraen,  bahkan ke Babilon di Iraq. Setelah beliau sibuk

Kekayaan Nabi Muhammad saw dapat diukur dari kemampuannya memberikan maskawin dalam jumlah besar kepada Khadijah. Menurut riwayat,  Muhammad saw memberikan sejumlah emas dan 20 ekor unta terbaik, yang artinya sama dengan 20 mobil termewah pada saat ini. Begitu juga maskawin yang diberikan kepada istri-istri beliau yang lainnya tidak sedikit.

Di usia 37, beliau sudah tidak berdagang lagi dan hanya menjadi pemodal saja. Income beliau sebagai investor banyak, namun kehidupan beliau tetap sederhana. Pada usia 37 beliau lebih konsentrasi tentang masalah moral, sosial ekonomi, dan masyarakat. Perdagangan ditinggalkan dan sering berkontemplasi di gua Hira.

Jadikan dunia ini tempat kita beramal, untuk memperoleh nikmat di akhirat. Ingatlah perkataan ‘Ali bin Abi Thalib,

وَإِنَّ الدُّنْيَا قَدِ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً وَالآخِرَةُ قَدْ قُرِّبَتْ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا بَنُوْنَ فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ اليَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ

“Sesungguhnya dunia akan ditinggalkan di belakang. Sedangkan akhirat begitu dekat dijumpai di depan. Dunia dan akhirat masing-masing memiliki budak. Jadilah budak akhirat, janganlah menjadi budak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari untuk beramal, tidak ada hisab (perhitungan). Sedangkan besok (di akhirat) adalah hari hisab (perhitungan), tidak ada lagi amalan.”

Oleh Al Ustadz Asep Subandi

Baca juga:

Tags
Back to top button
Close
X