Fiqh

Puasa Ramadhan; Syarat, Rukun, Sunnah dan Hal Yang Membatalkannya

Puasa atau shaum menurut bahasa berarti menahan diri dari sesuatu, seperti menahan berbicara agar apa yang dibicarakan merupakan hal yang benar, menahan makan, minum dan lain sebagainya. Sedangkan menurut istilah syara’ adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Sesungguhnya jika puasa hanya menahan makan dan minum itu merupakan perkara yang mudah, yang sulit adalah ketika kita harus menahan nafsu angkara, baik ucapan, perilaku, sampai apa yang ada di dalam hati.

Puasa dibagi menjadi dua yaitu puasa sunnah seperti puasa senin kamis, daud, dan lain sebagainya. dan puasa ramadhan yang hukumnya wajib bagi setiap muslim dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Beragama islam
  2. Baligh (sampai umur)
  3. Berakal, tidak wajib puasa bagi orang gila
  4. Kuasa, tidak wajib puasa bagi orang yang kuat berpuasa karena sakit dan tua renta
  5. Suci dari haid dan nifas, bagi perempuan.

Adapun  dalil yang mewajibkan puasa Ramadhan adalah,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”

Adapun ketentuan dimulainya puasa ramadhan  adalah sebagai berikut:

  1. Melihat (rukyat) bulan dengan disaksikan dua orang saksi yang adil di depan hakim
  2. Melihat bulan, bagi mereka yang melihatnya sendiri dengan penuh keyakinan
  3. Mendengar kabar yang mutawatir, yaitu kabar orang banyak yang tidak mungkin terjadi kebohongan
  4. Dengan ilmu hisab atau perhitungan bulan
  5. Dengan mencukupkan bulan sya’ban 30 hari.

Rasulullah SAW bersabda:

“Berpuasalah kamu, karena melihat bulan (awal Ramadhan) dan berbukalah kamu bila telah melihat bulan (awal syawal), jika bulan terhalang sesuatu sehingga tidak terlihat,  maka sempurnakanlah bulan Sya’ban, 30 hari.”

Adapun rukun puasa adalah sebagai berikut:

  1. Niat, pada malam hari bagi puasa wajib
  2. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga matahari tenggelam (magrib).

Adapun sunah-sunah puasa adalah sebagai berikut:

  1. Menyegerakan berbuka apabila telah tiba waktunya
  2. Lebih dulu berbuka dengan kurma, atau sesuatu yang manis
  3. Berdo’a sewaktu berbuka
  4. Makan sahur sesudah tengah malam atau mengakhirinya, sebelum masuk waktu imsak
  5. Memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa
  6. Memperbanyak sedekah Selama bulan ramadhan
  7. Memperbanyak membaca Al-Qur’an
  8. Memperbanyak berzikir kepada Allah
  9. I’tikaf di dalam masjid, utamanya pada malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Adapun hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut:

  1. Makan dan minum dengan sengaja, bila makan dan minum itu tidak disengaja, tetapi karena lupa, maka tidak membatalkan puasa.
  2. Muntah karena usaha yang disengaja
  3. Gila, jika gila itu dating di siang hari Ramadhan, maka puasanya batal
  4. Keluar mani dengan sengaja, karena bermesraan misalnya. Adapun keluarnya mani karena tidak sengaja, seperti mimpi disiang hari Ramadhan maka tidak membatalkan puasa.
  5. Keluar darah haid atau nifas bagi perempuan

Adapun orang-orang yang diperbolehkan berbuka ( Tidak puasa) sebagai berikut:

  1. Orang tua yang sudah lemah dan tidak kuat lagi untuk berpuasa, maka dia boleh berbuka dan menggantinya dengan membayar fidyah, untuk setiap harinya satu mud atau ¾ liter (kurang lebih 575 gram), pada fakir miskin.
  2. Orang sakit yang tidak kuasa, namun diharuskan mengganti puasa yang ditinggalkannya setelah bulan ramadhan.
  3. Orang yang bepergian jauh (musafir) yang tidak kurang dari 81 KM.
  4. Orang hamil atau yang sedang menyusui anak, namun diwajibkan untuk mengganti puasa yang ditinggalkannya dihari lain.

Semoga bermanfaat.

Baca juga : 

Tags
Back to top button
Close
X