Kolom Ustadz

PUASA; Implementasi Iman dengan Perut dan Hati

Oleh Al Ustadz Asep Subandi

Puasa itu tidak hanya dari makan dan minum saja , akan tetapi juga (puasa) dari kedustaan, kebatilan dan kesia-siaan. (Umar bin Khattab RA)

Mengingat iman itu mengandung makna keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan yang terpenting adalah pengamalan dengan anggota tubuh alias perbuatan, maka tanda-tanda keimanan seseorang dapat dilihat dan dibuktikan dengan perbuatan. Dan ternyata iman memiliki banyak cabang yang kesemuanya membentuk apa yang disebut dengan amal shaleh. Puasa merupakan salah satu bagian dari cabang iman, Nabi Saw memang tidak menjelaskan cabang-cabang iman secara keseluruhan dalam satu Hadits, namun cabang-cabang itu dapat disarikan dari ayat-ayat Al Qur’an dan  Al Hadits yang berbeda-beda. Kemudian para ulama berijtihad merincikan cabang-cabang iman itu dari kedua dasar sumber tersebut yaitu Al Qur’an dan  Al Hadits. Imam Al Hulaimi dan Imam Nawawi Al Bantani merincikan cabang iman sebanyak 77 cabang, sedangkan Al Hafidz Abu Hatim Ibnu Hibban menghitungnya ada 79 cabang iman.

Terlepas berapa banyak jumlah cabang iman, yang jelas puasa merupakan salah satu bagian dari cabang iman. Dalam kitab “Qomiut Tughyan ‘ala Mandzumati Syu’abil Iman” karya Imam Nawawi Al Bantani, puasa berada pada posisi cabang iman yang ke-23, sama halnya dalam kitab “Syu’abul Iman” karya Imam Baihaqi, puasa berada pada urutan cabang iman yang ke-23 juga. Kedudukan puasa dalam Islam sangat penting, karena itu Allah Swt mewajibkan puasa dengan seruan kepada orang-orang yang beriman. Ini menunjukan bahwa puasa merupakan tuntutan keimanan karena Allah, Barangsiapa meninggalkannya tentu akan rusak dan cacat keimanannya.

Puasa pertama-tama harus disertai dengan keimanan, artinya berpuasa bagi Muslim harus diawali dengan niat yang ikhlas beribadah kepada Allah semata. Bukan untuk diet (menguruskan badan), bukan karena ajakan tenan, bukan karena untuk mendapatkan kekuatan magis dan sebagainya. Perlu diingat bahwa puasa tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi mengerjakan amalan-amalan layaknya orang yang beriman. Tandanya dengan menghindari perbuatan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, menghormati tamunya, menjaga lisannya, menjaga matanya, menjaga telinganya dan menjaga semua anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak, maka puasanya sia-sia alias tidak berguna. Rasulullah Saw sudah mengantisipasi hal ini dengan mengingatkan dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra :

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

Banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja dari puasanya, dan banyak orang yang melakukan qiyamullail (shalat malam) tidak mendapatkan pahala qiyamullailnya kecuali berjaga (begadang) saja.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Sebaliknya, jika cara berpuasa seseorang itu disertai dengan iman maka seluruh dosanya akan diampuni. Nabi Saw bersabda : “Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Imam Al Bukhari)

Para sahabat dan generasi terdahulu dari umat ini telah bersemangat untuk menjadikan puasa mereka menjadi pensuci jiwa dan fisik mereka, dan menjadi pembersih dari maksiat dan dosa. Beberapa riwayat di atas telah disebutkan oleh Ibnu Hazm dalam Al Muhalla mengatakan : “Setelah ini kami tidak heran kalau ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa puasa orang yang terjerumus  ke dalam kemaksiatan adalah batal, meskipun pendapat yang benar adalah tidak membatalkan puasa, namun bisa dipastikan ketidaksempurnaan puasanya dan menyimpang dari hakekat puasanya”.

Hakekat dari tujuan puasa adalah agar bertakwa, berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat al Baqarah ayat 183 :

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Allah tidak mengatakan: “Agar kalian merasa lapar”, atau “Agar kalian merasa haus”, atau “Agar kalian menahan diri dari (menggauli) istri”, tetapi Allah berkata: “Agar kalian bertakwa”. Inilah tujuan utama dari puasa, Nabi saw telah merealisasikan hal itu dan menguatkan dengan sabdanya:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh jika dia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Imam Al Bukhari)

Jadi, bahwa manusia berpuasa dari kemaksiatan kepada Allah Swt merupakan puasa yang sebenarnya, dan ini dinamakan dengan puasa batin. Adapun puasa yang dzahir adalah puasa dari semua yang membatalkan puasa. Menahan diri dari semua yang membatalkan puasa dalam rangka beribadah kepada Allah dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Tags
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
X