Kolom Ustadz

Persaudaraan Karena Iman Dan Islam

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat). H.R. Muslim

Sejarah mencatat bahwa umat ini pernah menyandang predikat menjadi umat terbaik selama belasan Abad. Gelar tersebut diraih ketika umat berpegang teguh pada ajaran Islam dan adanya rasa persaudaraan diantara hati-hati mereka, sehingga satu sama lain saling mengokohkan dalam satu ikatan rantai suci yang bernama “Ukhuwah (persaudaraan)”. Banyak manfaat yang dapat dirasakan dari ikatan ukhuwah atau persaudaraan, diantaranya tumbuh rasa saling memahami, terciptanya sikap tolong menolong, timbul rasa saling menanggung sehingga rasa sedih dan senang diselesaikan bersama. Ketika ada saudara yang mempunyai masalah, maka kita ikut menanggung dan menyelesaikan masalahnya tersebut.

Tingkat tertinggi dalam ukhuwah adalah sikap mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Ini merupakan sikap yang memiliki tingkat keimanan setara dengan para sahabat. Banyak hadits yang menunjukkan sikap ini. Seperti ketika dalam suatu perang, salah seorang sahabat sangat kehausan. Kebetulan ia hanya tinggal mempunyai 1 kali jatah air untuk minum. Saat akan meminum nya, terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan. Maka air tersebut ia berikan kepada sahabat yg kehausan itu. Saat mau meminumnya terdengar sahabat lain lagi yang merintih kehausan. Kemudian ia berikan air tersebut kepada sahabat itu. Begitu seterusnya sampai air tersebut kembali kepada si pemilik air pertama, akhirnya semua syahid.

Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri” (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indah ukhuwah yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan Islam ini.

Baca juga : berdikari kunci kesuksesan

Namun kondisi memilukan mulai terjadi lantaran ikatan persaudaraan (ukhuwah) tersebut dicerai beraikan oleh kaum kafir. Perpecahan dikalangan umat ini terjadi disebabkan terkikisnya iman, jauhnya umat Islam terhadap ajarannya, dan itu semua adalah hasil usaha dari kaum kafir. Mereka menyerang umat Islam dengan meracuni pemikiran dan keyakinan hati orang muslim. Racun-racun ditaburkan di berbagai aspek kehidupan umat Islam. Mereka menyemaikan racun pemikiran, racun pengetahuan, hingga menjadi doktrin dan dogma yang harus diterima serta tidak boleh dibantah apalagi diragukan kebenarannya.

Fenomena Ukhuwah Sektarian

Sadar atau tidak, munculnya banyak persekusi dan pembubaran pengajian oleh ormas yang mengklaim penjaga Pancasila, NKRI dan kebhinekaan sudah mengarah pada perpecahan di kalangan umat Islam. Inilah hasil nyata dari upaya adu-domba dari para pihak yang anti Islam.

Jika ditelusuri, upaya adu domba antar umat Islam ini boleh jadi dipicu oleh upaya pengelompokan umat Islam secara massif akhir-akhir ini. Ini tidak terlepas dari strategi global atas negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia yang  direkomendasikan oleh Rand Corporation (RC) yang merupakan lembaga think-thank (gudang pemikiran) neo-conservative AS yang banyak mendukung kebijakan Gedung Putih. Langkah pertama upaya pecah-belah adalah dengan melakukan pengelompokan umat Islam menjadi empat: kelompok fundamentalis (radikal), kelompok tradisionalis, kelompok modernis (moderat) dan kelompok sekular.

Rekomendasi berikutnya adalah “politik belah bambu”, yakni mengangkat satu pihak dan menginjak pihak lain. Untuk memenangkan kelompok moderat, misalnya, dipropagandakanlah “gerakan melawan radikalisme”. Berikutnya adalah membentrokkan antarkelompok tersebut. Di dalam negeri, upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan ormas yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang dicap sebagai fundamentalis (radikal). Inilah yang telah dan sedang terjadi akhir-akhir ini.

Di Tengah perpecahan umat Islam, dewasa ini ada kelompok tertentu yang mengekspresikan gambaran ukhuwah. Sungguh itu satu kegembiraan yang tak terbayangkan, namun sayang rasa senang atau gembira itu harus sirna karena ukhuwah yang dibangun oleh mereka karena dasarnya satu kelompok, satu golongan politik, satu organisasi dan satu aliran. Mereka menganggap saudara kepada teman satu kelompoknya dengan sebutan atau label “Ikhwah / Ikhwan (bagi laki-laki)” atau “akhwat (untuk perempuan)”. Hal tersebut tidak jadi masalah, jika digunakan hanya kalimat panggilan dengan tujuan untuk mempererat hubungan antar anggota kelompok atau organisasi. Tetapi label atau sebutan Ikhwah dan Akhwat ini akan menjadi masalah apabila melekat dalam benak mereka serta menggunakannya sebagai ciri bahwa Ikhwah dan Akhwat adalah orang yang satu kelompok atau satu golongan politik atau satu organisasi dan satu aliran dengan mereka.

Baca juga : kepemimpinan bukanlah jabatan

Dalam kasus lain, ada yang mengartikan Ikhwah / Ikhwan dan Akhwat merupakan orang yang telah bergabung dengan pengajian-pengajian kelompok tertentu. Ketika sudah tidak mengikuti pengajian kelompok tersebut, tidak disebut Ikhwah ataupun Akhwat lagi. Padahal orang tersebut masih terus belajar dan mengikuti kajian-kajian agama, walaupun bukan kajian dibawah naungan kelompoknya. Karena kajian tersebut berada diluar kelompok atau golongan mereka, maka dia tidak disebut ikhwah. Lebih jauh lagi jika seseorang tidak pernah bergabung dengan golongan tersebut secara otomatis tidak bisa disebut sebagai Ikhwah, walaupun ia berada di dunia pesantren yang sebagian besar aktivitasnya mendalami ilmu-ilmu agama. Fenomena ini merupakan anomali pemahaman terhadap ukhuwah, dan ini adalah ukhuwah yang kontraproduktif, karena diekspresikan secara fanatik dan dogmatik parsial.

Sebelum kita lanjutkan, mari kita telusuri arti kalimat Ikhwah / ikhwan, Akhwat dan Ukhuwah dari segi makna. Secara bahasa kata Ikhwah, Akhwat dan Ukhuwah adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Kata Ikhwah atau Ikhwan adalah bentuk plural dari Akh (أَخٌ ج إِخْوَةٌ \ إِخْوَانٌ) yang artinya saudara laki-laki. Dan  Akhwat adalah bentuk plural dari Ukh (أُخْتٌ ج أَخَوَاتٌ) yang artinya saudara perempuan. Sedangkan kata ukhuwah merupakan bentuk masdar dari أَخَا – يَأْخُوْ – أُخُوَّةً. yang artinya menjadikan saudara, sehingga kata ukhuwah berarti persaudaraan.

Kata ukhuwah biasanya disandingkan dengan kata islam sehingga menjadi “Ukhuwah Islamiyah”. Dalam istilah Ukhuwah Islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa yang menumbuhkan rasa kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Pengertian ini sejalan dengan Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 10 :

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sungguh orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian dirahmati

Begitu pula Rasulullah saw telah menegaskan bahwa umat Islam itu bersaudara dengan sabda beliau: “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat di atas, “Semua orang beriman itu bersaudara dalam agama”. Hal senada juga dijelaskan oleh Imam al-Baghawi dalam kitab tafsirnya “Ma’alim At-Tanzil” dan Imam al-Khazin dalam kitab tafsirnya “Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil” bahwa maknanya adalah bersaudara dalam agama dan al-wilayah (perwalian) atau al-walayah (pertolongan). Imam as-Samarqandi dalam tafsirnya “Bahrul ‘Ulum” menjelaskan ayat di atas, “Kaum muslimin seperti saudara dalam kerjasama dan tolong menolong sebab mereka di atas agama yang satu”.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya “Taysir al-Karim ar-Rahman fii Tafsiir Kalaami al-Mannan” menjelaskan ayat di atas, “Inilah ikatan yang Allah ikatkan di antara kaum mukmin bahwa jika ada pada seseorang di manapun, di timur dan barat bumi, serta ada pada dirinya iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan Hari Akhir, maka sesungguhnya ia adalah saudara untuk kaum mukmin. Persaudaran ini mewajibkan kaum mukmin mencintai untuk saudaranya apa saja yang mereka untuk diri mereka sendiri dan membenci untuk dia apa saja yang mereka benci untuk diri sendiri.”

Dalam kitab tafsirnya “Adhwaau Al-Bayan”, Syaikh Muhammad al-Amin bin Mukhtar asy-Syinqiti menjelaskan makna persaudaraan dalam ayat diatas adalah ukhuwwah ad-adiin (persaudaraan agama), bukan ukhuwwah an-nasab (persaudaraan hubungan keluarga). Beliau menjelaskan, “Persaudaraan agama lebih agung dan lebih kuat dari persaudaraan hubungan keluarga (nasab) berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah”.

Jadi Ikhwah yang dimaksud oleh Allah dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 10 adalah persaudaraan karena Iman, bukan karena nasab, madzhab, golongan politik, kelompok pengajian, organisasi maupun aliran.

Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah. Islam menjadikan persaudaraan atas dasar Iman sebagai pondasi aktivitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah Islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena Islam dan persaudaraan itu tidak kuat. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya.

Rasulullah saw membuat gambaran indahnya tentang persaudaraan antar pemeluk agama Islam. Beliau melukiskan bahwa persaudaraan dalam ikatan keislaman itu seperti satu tubuh. Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Betapa erat, dekat, dan akrab hubungan sesama muslim. Meskipun ada perbedaan: perbedaan mazhab, politik, warna kulit, suku dan bangsa, namun kita tetap satu tubuh, kita tetap harus saling bersaudara dalam ikatan keislaman. Inilah yang disebut ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mudah diucapkan, tapi yang sulit adalah praktik dan aplikasinya dalam berbagai situasi serta kondisi kehidupan sehari-hari. Namun, perlu disadari bahwa mewujudkan persaudaraan Islam dalam arti yang sebenarnya merupakan kewajiban setiap Muslim.

Meski tak ada pakta perjanjian tertulis, namun umat Islam karena ikatan keislamannya haruslah memandang sesama Muslim sebagai saudaranya atas dasar kesamaan pandangan hidup. Segala yang merusak ukhuwah Islamiyah harus dijauhi.

Implementasi Ukhuwah Islamiyah

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang muslim menjalin persaudaraan yang didasari atas keimanan dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Untuk membentuk Ukhuwah Islamiyah tidak bisa hanya diucapkan di bibir saja. Ukhuwah Islamiyah dapat terbentuk dengan menerapkannya menjadi perilaku hidup umat dalam pergaulan dengan sesamanya. Suka duka dilalui bersama, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Sikap saling memiliki adalah lambang persaudaraan sejati. Prinsip dalam Ukhuwah Islamiyah diantaranya legalitas, yaitu adanya nilai persamaan. Sebagai contoh, dalam shalat berjamaah, meskipun dari berbagai latar belakang sosial yang berbeda, jabatan berbeda, ekonomi tidak sama, dan suku yang berbeda pula. Namun, ketika  sudah takbir Allahu Akbar, tidak ada perbedaan antara Jenderal dan Kopral, tidak ada keistimewaan tempat duduk orang kaya di masjid dan tidak ada pemisah antara suku Jawa dan Sunda.

Di Dalam implementasi kehidupan nyata fenomena ukhuwah Islamiyah bisa kita lihat sebuah sirah Nabi, ketika Rasulullah SAW hijrah, setibanya di Madinah yang pertama kali beliau lakukan setelah membangun masjid adalah mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Persaudaraan tersebut berlangsung di rumah Anas bin Malik. Mereka yang dipersaudarakan oleh Rasulullah berjumlah tujuh puluh orang. Separuh dari golongan Muhajirin dan separuhnya lagi dari golongan Anshar.

Baca juga : beribadah di antara ifrath dan tafrith

Beliau mempersaudarakan para sahabat atas dasar saling bantu membantu dan bahu membahu. Bahkan sampai saling mewarisi ketika ada yang meninggal dunia. Padahal tidak ada hubungan darah di antara mereka.

Persaudaraan yang terjalin atas dasar iman ini merupakan sebuah hubungan yang agung dan ikatan yang unik antara manusia satu sama lain. Dengan hubungan itu setiap Mukmin benar-benar merasakan sebuah kesamaan. Apakah ia seorang Muhajir maupun Anshar. Masing-masing merasakan bahwa ikatan yang baru tersebut benar-benar mengikatnya dengan sebuah persaudaraan yang terjalin karena Allah semata.

Masing-masing dari mereka selalu mencintai saudaranya sebagaimana mereka mencintai diri sendiri. Padahal saudara yang dicintainya itu bukanlah dari kabilahnya bahkan antara mereka tiada pertalian darah. Justru pertalian darah yang mengikat mereka pada zaman jahiliyah tak mampu menumbuhkan cinta yang tulus di dalam hati mereka.

Di dalam Islam manusia bertemu di atas akidah karena Allah. Sebab, setiap mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya. Tak pernah mereka menampilkan diri untuk mencari keuntungan pribadi dari orang lain sebagaimana terjadi dalam hubungan-hubungan jahiliyah. Faktor yang paling menonjol di antara mereka ialah cinta karena Allah.

Sungguh indah Ukhuwah, ia ibarat sebuah tubuh

Saling melengkapi, saling menasehati, saling melindungi

Kala jalan dunia begitu menyedihkan, ukhuwah datang membawa indahnya senyuman

Kala jalan dunia begitu gundah, ukhuwah datang membawa kabar kebahagiaan

Kala jalan dunia begitu putus asa, ukhuwah datang membawa kebersamaan dalam berjuang

Kala jalan dunia begitu penat, ukhuwah datang membawa angin kesejukan

Demikianlah hakikat persaudaraan dalam Islam. Sebuah persaudaraan yang bertemu di atas ikatan iman, bukan karena kelompok, golongan politik, organisasi maupun aliran. Ikatan iman tidak akan pernah putus hingga hari kiamat kelak. Ikatan yang tidak hanya dibatasi oleh hubungan darah, kedudukan, nasab, tanah kelahiran, warna kulit, bangsa ataupun bahasa. Dan ikatan inilah yang bisa mempersatukan seluruh kaum muslimin untuk berada dalam sebuah bingkai, yaitu bingkai ukhuwah Islamiyah.

Baca juga: Negeri Beribu Bintang Sejuta Impian

Back to top button
Close
X