Kolom Ustadz

Perbedaan Pengajar dan Pendidik

Akhir-akhir ini banyak yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata-1, yang tersebar di berbagai universitas. Dan yang paling banyak diminati adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Ekonomi, Hukum, Teknik dan fakultas-fakultas yang berbasis umum.

Banyaknya yang melanjutkan studi ke jenjang Strata 1 merupakan kabar gembira, berarti kesadaran masyarakat akan pendidikan mulai tumbuh dan dilihat dari sisi ekonomi mulai meningkat. Namun disisi lain ada kekhawatiran terhadap kelangsungan hidup beragama Islam dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan arah tujuan pendidikan mereka hanya untuk melahirkan peserta didik yang cerdas tanpa diimbangi dengan pendidikan Iman dan Akhlak.

Arah tujuan pendidikan yang ada sekarang melahirkan sarjana-sarjana yang bingung dalam menjalani kehidupannya. Banyak diantara mereka menjadi pengangguran, tidak mau bekerja mandiri (berwiraswasta) kalau tidak jadi pegawai, PNS, buruh, karyawan dan lain sebagainya. Dengan begitu, mata hatinya tertutup, pikirannya buntu, tidak bisa melihat ke depan, tidak mengerti pekerjaan-pekerjaan dan usaha-usaha yang masih amat banyak dan sangat bermanfaat untuk dikerjakan. Demikianlah pendidikan kolonial dan feodal, yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai, setelah selesai studinya diharapkan menjadi ini dan itu.

Saat ini bukan hanya yang muda yang melanjutkan ke S1, S2 bahkan S3, tetapi banyak dari kalangan paruh baya sampai yang sudah tua pun berbondong-bondong kuliah. Tampaknya tidak ada masalah dengan umur, karena Nabi pun menyuruh umatnya agar belajar dari kecil sampai ke liang lahad (Long life education), dan belajar merupakan kewajiban bagi muslim dan muslimat. Tetapi pada kenyataannya, yang paruh baya dan lansia melanjutkan kuliah agar pangkat / golongan dan jabatannya meningkat. Lebih ironis lagi yang menyandang titel Ustadz pun terbawa arus, katanya agar anaknya bangga punya bapak yang bertitel dan lebih berwibawa serta punya nama. Inilah barangkali yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw, : “Barangsiapa bertambah ilmu (pengetahuan)-nya, tetapi petunjuk yang diperolehnya tak semakin bertambah, maka tak bertambahlah kedekatannya kepada Allah, melainkan akan semakin jauh dari-Nya.”

Agar mengenal dan bagaimana posisi guru sebagai pengajar atau pendidik, atau apa perbedaan pengajar dan pendidik maka perlu kiranya diterangkan sedikit batasan (pengertian) mengenai hal tersebut.

PENGAJAR

Masalah dan kerusakan yang terjadi dalam jiwa guru sesungguhnya diakibatkan oleh kekurangan iman. Karena itu, orang yang bertambah ‘informasi pengetahuannya’ namun tidak bertambah imannya, maka orang tersebut dijauhkan dari petunjuk Allah swt. Sekarang sudah banyak yang menjadi guru dengan gelar S1, S2 dan S3, tetapi pandangan kebanyakan guru hanya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Itulah yang dilakukan di sekolah-sekolah yang ada sekarang. Guru menurut mereka hanya bertanggung jawab mengajar di dalam kelas, setelah selesai mengajar selesai pula sebagai guru. Diluar lingkungan sekolah merupakan bukan tanggung jawab guru, misalkan ada anak didiknya di luar sekolah minum-minuman keras, makai narkoba atau yang sepele saja ugal-ugalan naik motor, walaupun guru tersebut tahu karena diluar kelas ya tidak di tegur, diarahkan dan di nasehati. Begitulah jika pandangan seorang guru hanya sebagai pengajar.

Jika sudah terjadi keadaan seperti itu timbul saling menyalahkan, pengajar memang tidak salah 100%, karena mereka dari awal pendidikannya dibentuk untuk menjadi pegawai, mendapat pangkat (jabatan), mendapat gaji bulanan dan bekerja di kantor-kantor.

Dengan banyaknya lulusan sarjana Guru, pemerintah menjadi kewalahan untuk menyalurkan mereka, sedangkan tenaga PNS sudah terlalu banyak. Akhirnya untuk mengatur strategi, setiap tahun berubah aturan, setiap pemimpin merubah kebijakan. Yang dianggap sebagai guru hanya yang ber-SK, yang punya nomor Induk dan nomor-nomor lainnya. Yang berjuang susah payah, mendidik anak-anak siang dan malam, mengajari akhlak dan menunjukkan kepada kebaikan tidak dianggap sebagai guru hanya karena lantaran tidak punya SK. Itu semua merupakan kerusakan mental dari pendidikan kolonial yang dipersiapkan untuk jadi pegawai. Begitulah jika seorang guru sebagai pengajar.

PENDIDIK

Lain halnya dengan seorang pendidik berbanding jauh 180o dengan pengajar. Seorang pendidik sejati mempunyai jiwa berkepribadian yang mempunyai keyakinan (keimanan). Beriman mensyaratkan untuk berilmu. Seperti firman Allah swt, “Hanya orang-orang berilmu (ulama’) yang betul-betul takut kepada Allah.” (QS. Al-Fathir: 28).

Pendidikan tidak hanya terbatas pada proses pengajaran, tapi meliputi segala aktivitas yang dapat mengantarkan orang menjadi baik, dan perbaikan jiwa manusia dilakukan sejak kecil hingga dewasa. Bahkan, mereka yang sudah tua pun masih harus terus belajar, apapun profesinya walaupun sudah menjadi guru sekalipun tetap harus terus belajar. Karena “belajar (pendidikan) wajib bagi muslim dan muslimat, dari kecil hingga ke liang lahad.” (Al-Hadits)

Ringkasnya, seorang pendidik selain mengajarkan kebaikan kepada orang lain dia juga harus terus belajar agar bertambah ilmunya. Sabda Rasulullah saw :

مَا ازْدَادَ عَبْدٌ عِلْمًا إِلَّا ازْدَادَ قَصْدًا وَلَا قَلَّدَ اللهُ عَبْدًا قِلَادَةً خَيْرًا مِنْ سَكِينَةٍ

Dan tidaklah seorang bertambah ilmu kecuali ia akan semakin kuat menuju (Allah) dan sungguh Allah tidak memberikan pengikat (kalung) yang lebih baik kepada seseorang dibandingkan dengan rasa ketenangan“.

Seorang pendidik menunjukkan kepada anak didiknya, atau siapa saja kepada jalan kebaikan. Pendidik yang baik selain mengajari, ia juga mengarahkan, melatih disiplin, pembiasaan kepada hal-hal yang baik, pengawasan dan memberikan keteladanan. Semua itu dilaksanakan di ruang kelas maupun diluar kelas, dan tidak dibatasi oleh waktu. Contoh kongkrit dan pokok, anak didik yang tidak shalat padahal sudah masuk waktu shalat. Seorang guru yang baik pasti akan menegurnya, karena untuk menjadikan orang menjadi baik itu harus terus-menerus diarahkan dan dibimbing.

Hendaklah seorang guru mengarahkan anak didiknya agar mempunyai niat yang benar dan lurus dalam menuntut ilmu. Karena sesungguhnya belajar harus dilandasi dengan keikhlasan, mencari ridho Allah, menuju kebahagiaan akhirat, membasmi kebodohan diri sendiri dan orang lain serta meninggikan kalimatullah (Agama Islam). Itulah yang akan mengantarkanmu menjadi orang yang istimewa sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat :

خَيْرُكُمْ مَنْ ذَكَّرَكُمْ بِاللهِ رُؤْيَتُهُ، وَزَادَ فِي عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ، وَذَكَّرَكُمْ بِالآخِرَةِ عَمَلُهُ.

Yang paling baik diantaramu bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat”. (diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas).

Ditulis oleh AL Ustadz Asep Subandi

Baca juga : Teladan dalam menjemput Jodoh.

Tags
Back to top button
Close
X