Kolom Ustadz

Pengemban Amanah versus Penjilat

Yang amanah terus berbenah, Si pencari pangkat terus menjilat

Ketika kata “amanah” dipakai oleh penjilat, yang amanah jadi tercemar oleh limbah yang mengalir tak beraturan. Dilihat dari makna, arti amanah berarti dapat dipercaya atau sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Lain dengan kata “penjilat” yang memiliki makna; Orang yang suka berbuat sesuatu untuk mencari muka atau mengambil hati seseorang sehingga mendapat pujian atau kenaikan pangkat.

Benalu, mungkin kata ini cocok untuk diberikan kepada si penjilat. Hidup benalu bukan hanya menumpang, melainkan juga menghisap zat instan yang telah diproses dengan susah payah oleh mekanisme tumbuhan itu. Ia tidak segan-segan mengorbankan yang lain untuk mencapai tujuannya. Loyal (pendukung setia) ketika sesuai dengan kepentingan pribadinya. Jadi penentang ketika merasa terancam atau peluang sudah hilang. Si penjilat berprinsip “Tak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan pribadi”.

Ambisi terhadap kehormatan di dunia merupakan batu sandungan bagi setiap muslim dalam menggapai cita-citanya untuk mendapatkan ridha dan cinta Allah. Ketika ia lebih mengutamakan mencari popularitas, pengaruh, jabatan dan kedudukan dari ridha-Nya, ia akan berjalan menyimpang dari jalan Allah. Betapa rakus dan semangatnya orang-orang yang menginginkan jabatan ini, sehingga Rasulullah saw menggambarkan kerakusan terhadap jabatan melebihi dua ekor serigala yang kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing.

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. At-Tirmidzi dishahihkan asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahih Al Musnad).

Berbanding terbalik dengan sosok pengemban amanah yang sesungguhnya, sebagai ibrah (pelajaran), suatu kali Umar bin Khattab datang ke Syam. Beliau mengenakan izaar (pakaian bawah/ semisal sarung), kasut (alas kaki) dan imamah (penutup kepala). Dalam riwayat lain disebutkan pula beliau turun dari unta dan melepaskan kasutnya. Dikalungkannya kedua kasutnya diatas bahu, kemudian ia mengambil kendali untanya dan dipegangnya sambil mengarungi sungai. Lalu di antara sahabat berkata, “Wahai Amirul Mukminin, para tentara dan pembesar negeri Syam akan menyambut Anda, tetapi Anda seperti itu keadaannya?” Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Karena itu kami tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.”

Begitulah kemuliaan dalam pandangan generasi terbaik. Kemuliaan yang dinilai dari tingkat ketakwaan, pada sejauh mana ia bisa mengabdikan dirinya kepada Allah dan komitmennya terhadap syariat Islam. Bukan kemuliaan yang didapat dengan mencari sanjungan manusia, atau mengukurnya dengan barometer dunia. Dengan karakter itulah, kaum muslimin di waktu itu berwibawa, baik di mata kawan maupun lawan.

إِذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ.

“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibril Pun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian dia dikaruniai dengan diterimanya di muka bumi”. (HR. Bukhari dan Shahih Muslim)

Baca juga: Perbedaan Islam Moderat dan Islam Liberal

Kesimpulannya mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat. Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana.

Ditulis oleh Al Ustadz Asep Subandi

Tags
Back to top button
Close
X