Kolom Ustadz

Negeri Beribu Bintang Sejuta Impian

Impian selain diperjuangkan, harus diusahakan sedini mungkin, mulai dari skala kecil, karena kesuksesan yang haqiqi itu bertahap bukan langsung mendunia. Suryati

Jika kita mendengar tentang negeri beribu bintang, sudah pasti langitlah yang ada dalam pikiran kita. Karena langit terdiri dari berjuta-juta galaksi dan menyimpan bertriliunan bintang, yang tak mampu dihitung oleh alat canggih apapun, apalagi hanya menggunakan jari dalam menghitungnya, sungguh hal itu adalah hal sulit yang tak mampu saya bayangkan.

Namun jika diteruskan kalimat diatas adalah, “Beribu bintang sejuta impian” hal ini mempunyai makna lain yang tersirat dalam setiap generasi yang berbeda, mulai dari generasi nomaden, sampai generasi modern, mulai dari generasi tua sampai generasi muda. kalimat ini mempunyai makna yang dekat dengan harapan mereka yang selalu mereka diskusikan dengan Allah lewat sepertiga malam.

Setiap manusia yang mempunyai cita-cita tentu dia akan tau dimana negeri beribu bintang sejuta impian itu, sejak kapan cita-cita itu hadir dan mengusik setiap langkahnya, maka ditempat itulah negeri beribu bintang sejuta harapan.

Bagi saya Negeri itu adalah Pondok Modern Daarul Abroor (PMDA),  tempat ini menyimpan beribu bintang, bintang-bintang itu adalah mereka para santri yang belajar dengan rajin dan penuh kesungguhan karena mereka mempunya mimpi-mimpi yang harus mereka perjuangkan lewat usaha dan do’a pada sepertiga malam.

Tempat ini menyimpan begitu banyak harapan-harapan yang membuat mereka terus berlari tanpa henti. Santri akan menemukan bakat mereka, kemudian mengukir mimpi mereka dalam lembar kehidupan nyata, dan memperjuangkan mimpi mereka dalam usaha dan do’a.

Untuk itu sebagai lembaga pendidikan yang tau akan mimpi anak-anak didiknya, maka diciptakanlah sebuah kegiatan yang akan mengasah kemampuan mereka dari berbagai sisi kehidupan mereka di pondok. Kegiatan itu adalah DA OLIMPIADE yang memberikan banyak manfaat dalam proses menuju harapan yang telah mereka lukiskan. Kegiatan ini  jembatan meraih mimpi-mimpi yang mereka perjuangkan.

Bagi santri yang ingin menjadi pendakwah, diadakanlah berbagai perlombaan tentang ubudiyah seperti pidato tiga bahasa, hafalan do’a sehari-hari, hafalan qur’an dan lain sebagainya. Bagi mereka yang bermimpi menjadi seorang sastrawan maupun sastrawati, maka diadakanlah perlombaan mengarang cerpen, jurnalis, membuat mading, sampai membaca cepat dan mengetik. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi seorang seniman maka ada perlombaan tentang menggambar, kaligrafi, sampai melukis diatas kaca.

Sehingga terciptalah 78 perlombaan santri putri dan 58 perlombaan santri putra. Dari kegiatan inilah mereka akan berusaha meraih cita-cita mereka dalam skala pondok yang diharapkan suatu saat nanti mereka dapat menembus dunia dengan impian mereka. [Ustadzah Suryati]

Back to top button
Close
X