Memahami Mimpi Berdasarkan Perspektif Islam

Wajib Dibaca

SekPim
Sekretaris Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor.

Mimpi itu bagaikan sesuatu yang tergantung pada kaki burung selama ia tidak diceritakan. Jika diceritakan, terjadilah ia.” (HR. Abu Dawud).

Pendahuluan

Tulisan ini akan saya awali terlebih dahulu dengan sebuah kisah yang berhubungan dengan mimpi. Sedikitnya ada tiga kisah yang akan saya kemukakan.

Kisah pertama adalah pengalaman pribadi, ini terjadi ketika saya Kuliah Kerja Nyata sekitar sepuluh tahun yang lalu yaitu pada tahun 2010. Ada seorang warga ditempat saya melakukan Kuliah Kerja Nyata bercerita kepada saya prihal tentang mimpi yang dialaminya. Dia bercerita bahwa dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang tokoh, dan berpesan kepadanya agar jangan meninggalkan shalat. Setelah selesai menceritakan mimpinya, dia bertanya tentang makna dari mimpinya tersebut. Sudah lama dia bertanya kesana kemari tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban yang cocok (menurutnya) dengan mimpinya. Kemudian saya menjawab dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki. Secara spontan saya mengatakan kepada dia bahwa mimpi yang bapak alami mengandung makna yang baik, jika bapak melaksanakan pesan yang ada pada mimpi itu, Insya Allah hidup bapak menjadi lebih baik dan berkah. Setelah mendengar jawaban dari saya, ia pun merasa bahwa jawaban tersebut merupakan jawaban yang tepat dan cocok.

Kisah kedua terjadi ketika guru saya singgah disebuah masjid yang berada di kota Palembang. Setelah shalat berjama’ah, beliau menyempatkan diri berbincang-bincang dengan imam masjid tersebut. Dari panjangnya perbincangan, ada pernyataan imam yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Sang imam mengatakan bahwa “Ia belajar agama melalui mimpi

Kisah ketiga terjadi ketika saya berdiskusi dengan seorang teman yang sering menjadi panitia acara disebuah masjid di kota Palembang, tapi tempatnya berbeda dengan masjid pada kisah kedua. Teman saya mengatakan “Imam di masjid saya sering mimpi, dan mimpinya itu sering dijadikan rujukan olehnya dalam hal ilmu agama”.

Walaupun kisah diatas terjadi di tempat dan waktu yang berbeda, tetapi bermuara pada suatu masalah yang sama. Ketiga kisah tersebut di atas perlu kiranya dijelaskan berdasarkan perspektif Islam. Jika mimpi dipahami menurut pandangan Islam, maka tidak ada mimpi yang dijadikan ladang bisnis bagi penafsir mimpi, tidak ada mimpi yang dijadikan tempat rujukan memahami agama. Karena ilmu agama bisa didapat dengan cara belajar kepada ulama.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita menyikapi mimpi. Untuk itu kita perlu memahami mimpi berdasarkan perspektif Islam. Menurut perspektif Islam berarti berdasarkan keterangan dari Al Qur’an dan Al Hadits.

Mimpi di dalam Al Qur’an

Dalam Al Qur’an, prihal mimpi mendapatkan porsi yang cukup besar, berikut ayat-ayat Al Qur’an yang menyinggung tentang mimpi :

 

1. Surat Al-Shaffat: Ayat 102

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan dan tatkala Isma’il menjadi besar, tumbuh dan dapat pergi bersama ayahnya berusaha melakukan pekerjaan-pekejaan dan memenuhi keperluan-keperluan hidupnya, maka berkata Ibrahim kepadanya, Hai anakku, sesungguhnya aku telah bermimpi bahwa aku menyembelih kamu. Maka bagaimanakah pendapatmu. Mimpinya itu dia ceritakan kepada anaknya, dia tahu bahwa yang diturunkan kepadanya adalah cobaan Allah. Sehingga, ia hendak meneguhkan hatinya kalau-kalau dia gusar dan hendak menentramkan jiwanya untuk menunaikan penyembelihan disamping dia menginginkan pahala Allah dengan tunduk kepada perintah-Nya: Kemudian, Allah menerangkan bahwa Ismail itu mendengar dan patuh serta tunduk kepada apa yang diperintahkan kepada ayahnya.

 

2. Surat Yusuf Ayat 4

Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku”.

Dalam tafsir Asy Sya’rawi karya Syaikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, beliau mengatakan, ayat ini mengisahkan bahwa Nabi Yusuf as. melihat benda langit yang dalam pandangan mata lahir tidak mungkin tampak secara bersamaan dimana sebelas bintang, matahari dan bulan terlihat muncul bersamaan dan tidak lazim karena kita sering memandang langit yang ditaburi ribuan bintang tetapi Nabi Yusuf hanya melihat sebelas bintang dan benda-benda langit tersebut bersujud kepadanya.

 

3. Surat Al-Isra Ayat 60

Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”.

Dalam kitab Lubabun Nuqul fii Asbabin Nuzul karya Imam As Suyuti terdapat riwayat, bahwa Abu Ya’la meriwayatkan dari Ummu Hani bahwa setelah Nabi saw menjalankan Isra Mi’raj, pagi harinya beliau menceritakan kepada beberapa orang quraisy sehinga mereka mengejek beliau. Mereka meminta bukti, maka beliau pun menggambarkan keadaan Baitul Maqdis, juga menceritakan kisah kafilah dagang. Maka al-walid bin Mughirah berkata, “ia adalah tukang sihir”. Maka Allah menurunkan ayat ini. Ibnul Mundzir meriwayatkan hal serupa dari al-Hasan.

 

4. Surat al- Fath ayat 27

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa kamu pasti akan memasuki Masjid al- Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”.

Pada saat Rasulullah saw., berjalan ke Hudaibiyah beliau melihat dalam mimpinya seraya bersama para sahabat memasuki kota Mekah dengan aman mereka melakukan thawaf, mencukur rambut kepala dan mengguntingnya lalu Rasulullah saw,. mengabarkan mimpinya kepada para sahabat maka bergembiralah mereka. Para sahabat menduga mereka akan memasuki masjid al-Haram tahun itu juga dan mereka berkata sesungguhnya mimpi Rasulullah itu benar, kemudian Rasulullah saw bersama para sahabatnya pergi untuk menunaikan umrah namun sayang mereka dihadang oleh kaum musyrikin mengetahui itu bergembiralah orang-orang munafik maka turunlah ayat diatas dan terbuktilah mimpi Rasulullah itu pada tahun ketujuh yaitu satu tahun setelah ayat ini turun.

Ini merupakan kabar gembira kepada Nabi saw. melalui mimpi yang melahirkan keyakinan dan semangat dalam perjuangan beliau saw. Pada ayat ini Allah SWT. menampakkan mimpi sebagai janji akan memperoleh kemenangan dan kesuksesan.

 

Terminologi Mimpi Menurut Sebagian Ulama

Terdapat ragam pendapat mengenai mimpi dikalangan ulama. Oleh karena itu, untuk memahami mimpi akan kita paparkan ragam pendapat dari kalangan ulama tersebut.

Menurut Ibn Qayyim al-Jauzi, mimpi adalah perumpamaan yang dibuat oleh malaikat yang Allah tugaskan kepada mereka untuk mengurusi mimpi agar orang yang melihatnya dapat mengambil dalil (memahami) permisalan tersebut dengan yang serupa.

Menurut Ibn Khaldun, mimpi adalah sebuah pertanda jiwa yang berbicara pada zat ruhaninya sekilas dari gambaran-gambaran kejadian.

Menurut Shalih Qubbah, mimpi itu benar, apa yang dilihat oleh orang yang tidur di dalam tidurnya adalah benar, sebagaimana yang dilihat oleh kedua matanya pada saat terjaga. Maka ketika seseorang melihat dirinya di Afrika di dalam tidurnya sementara dia berada di Baghdad, maka sesungguhnya Allah menempatkannya di Afriaka pada saat itu.

Berdasarkan perbedaan pandangan ulama perihal mimpi, kita dapat menarik sebuah kesimpulan yang dapat mempertemukan antar pendapat tersebut, bahwa mimpi adalah sebuah peristiwa yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, dimana mimpi tersebut adalah sebuah kebenaran yang diperlihatkan oleh malaikat kepada ruh manusia melalui perumpamaan-perumpamaan agar manusia mengambil pelajaran dari perumpamaan tersebut.

Melalui mimpi pula, terkadang pula manusia melihat kejadian yang kacau dalam mimpinya hingga membuatnya khawatir. Pada umumnya mimpi yang kacau hanyalah gangguan dari setan.

 

Sumber Mimpi

Mimpi adalah suatu peristiwa yang sering dialami oleh manusia ketika sedang tertidur. Permasalahan mimpi adalah permasalahan yang diperhatikan oleh Nabi kita Muhammad saw. Apabila usai mengerjakan shalat subuh, beliau menghadap jamaah, terkadang bertanya: “Apakah ada di antara kalian yang mimpi semalam?” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad saw membagi mimpi berdasarkan subernya menjadi tiga macam. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:

Mimpi itu ada tiga macam : (1) mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah; (2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari setan; dan (3) mimpi yang timbul karena bisikan jiwa seseorang. Maka seandainya engkau bermimpi sesuatu yang tidak disenangi, bangunlah, kemudian shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.”

Mimpi Yang Bermakna

Mimpi yang kita alami bisa saja menjadi benar adanya. Karena ia merupakan gambaran yang merefleksikan berbagai pikiran atau perbuatan manusia. Perilakunya ketika sadar disampaikan kepada hatinya, lalu ia melihat perilaku tersebut di dalam mimpi.

Mimpi yang baik, yaitu jika seseorang bermimpi hal yang ia sukai. Mimpi ini datangnya dari Allah dan itu suatu nikmat. Dan biasanya memiliki makna yang baik pula. Jika orang bermimpi seperti itu, ia jadi semangat dan bergembira. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi saw, “Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar-kabar gembira.

Dalam riwayat Imam Al Bukhari ra., dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya …….

Islam tidak membiarkan manusia bermimpi tanpa arti dan tanpa tidak lanjut. Islam juga tidak melenakan manusia untuk mendefenisikan mimpi sekdar matematika hampa. Karena dengan sebuah mimpi baik, Allah ingin mengajarkan kita bahwa sudah seharusnya kita bersyukur dan menafakuri kehidupan dengan jernih sebelum ajal tiba, Ia juga mendelegasikan bahwa ada hikmah dalam tiap rekam jejak kita dalam mimpi walau hanya sehelai rambut.

 

Mimpi Yang Tidak Bermakna

Mimpi yang tidak bermakna artinya mimpi kosong, mimpi yang bagian-bagiannya tidak dapat dipahami oleh pemimpi itu sendiri atau kejadian-kejadiannya tidak dapat diingat secara sistematis. Maknanya juga berlainan dan tidak sinkron dengan masalah pokok. Mimpi jenis ini adalah batil, sebab merupakan mimpi yang diciptakan oleh setan.

Salah satu diantara tipu daya setan adalah memperlihatkan mimpi-mimpi yang menyeramkan kepada seseorang kala tidur, supaya dapat membuatnya sedih dan gelisah.

Untuk terapi dari mimpi seperti ini yaitu dengan membaca ta’awudz, yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Mimpi ini baiknya tidak diceritakan kepada orang lain dan yang bermimpi harus bersabar dalam hal itu.

Dalam sebuah riwayat lain, Rasulullah menjamin ketika seseorang melupakan mimpi itu, dan memohon perlindungan dari setan, maka mimpi itu tidak akan berdampak buruk baginya. Beliau bersabda,

Apabila kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri 3 kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Al Bukhari, Muslim dan yang lainnya)

Ingatlah, bahwa setan itu musuh manusia dan berusaha menyakiti, juga membuat sedih manusia. Coba kita renungkan dengan baik ayat berikut, “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. Al-Mujadalah: 10)

Mimpi yang tidak ada maksud apa pun, bisa juga karena bisikan jiwa atau suatu pikiran yang terkadang seseorang memikirkan sesuatu ketika sadar. Karena terlalu serius memikirkan, sampai berhalusinasi dan terbawa mimpi. Misalnya mimpi tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

 

 Prihal Mimpi Bertemu Nabi Muhammad SAW

Pada bulan desember 2020 lalu kita dihebohkan dengan berita Ust. Haikal Hassan mimpi bertemu Rasulullah SAW, kemudian dilaporkan Husein Shihab ke Polisi. Awalnya bersumber dari video Ust. Haikal Hassan menyatakan soal mimpi bertemu Rasulullah SAW yang diunggah ke akun YouTube Front TV, dengan judul, Sambutan & Doa IB-HRS, Ubn, Babe Haikal di pemakaman syuhada. Video diambil saat pemakaman lima pengikut Habib Rizieq Syihab di Megamendung.

Kasus tersebut membuat Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas merasa heran dengan hal itu. Beliau berkata : “Pertanyaan saya, kok mimpi orang bisa dipolisikan? Emangnya tugas polisi juga mengurusi dan mengamankan mimpi-mimpi orang?” kata Anwar kepada wartawan, pada hari selasa malam tanggal 15 desember 2020. Beliau menilai bisa saja seseorang bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Hal itu, menurutnya, menjadi keinginan setiap orang, termasuk dirinya.

Bagaimanakah kita menyikapi orang atau kita ketika mimpi bertemu Rasulullah saw?

Mimpi bertemu dengan Rasulullah saw adalah sesuatu yang mungkin dan bisa dialami oleh seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits. Beliau saw bersabda :

Siapa yang (bermimpi) melihatku dalam tidur, berarti ia sungguh-sungguh telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak akan bisa menjelma menyerupai diriku.” (HR. Imam Al Bukhari dan Imam Muslim).

Para ulama menerangkan maksud dari hadits tersebut dengan penjelasan. Pertama: Yang dimaksud adalah orang yang hidup dimasa beliau tetapi belum pernah berjumpa dengan beliau. Jika ia bermimpi bertemu Nabi saw, maka mimpi tersebut akan menjadi kenyataan.

Kedua: Maksudnya, ia akan berjumpa dengan Nabi saw dengan pertemuan yang khusus di akhirat kelak. Atau ia adalah diantara orang yang akan mendapatkan syafa’at Nabi saw kelak di akhirat.

Ketiga: Yang dimaksud yaitu mimpi orang tersebut akan terbukti di akhirat kelak sesuai dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi tersebut.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata: Ini adalah kabar gembira bagi orang yang melihatnya, bahwa dia akan berjumpa dengan Nabi saw pada hari kiamat.

Yang menjadi perhatian dari sabda beliau ini adalah orang yang mimpi tersebut harus tahu ciri-ciri fisik Rasulullah. Bagaimana wajah beliau. Bagaimana rambut dan jumlah uban beliau. Karena terkadang setan hadir dalam mimpi seseorang, kemudian setan mengaku sebagai Nabi saw. Setan memang tidak bisa menyerupai fisik Nabi, tapi setan bisa saja mengaku sebagai Nabi Saw. Orang yang tidak mengetahui ciri fisik Nabi ini pun tertipu. Ditambah lagi setan mengajarkannya amalan-amalan tertentu. Atau keyakinan-keyakinan tertentu. Sehingga ia disesatkan oleh setan melalui mimpinya tersebut.

Para ulama kita telah menulis hadits-hadits dari para sahabat Nabi saw tentang ciri fisik Nabi. Bagaimana rambut beliau, bagaimana tapak tangan beliau, bagaimana bentuk kakinya, dll. Ketika seseorang menemukan yang ia lihat dalam mimpi sama persis dengan hadits-hadits tersebut, maka ia benar-benar telah melihat Rasulullah. Dan setan tidak mampu menyerupai bentuk fisik tersebut. Di antara kitab yang terkenal yang mengupas bentuk fisik Nabi saw adalah Asy-Syama-il Muhammadiyah karya Imam at-Turmudzi.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani menyebutkan sebuah riwayat dengan sanad yang shahih dari Ibnu Sirin, “Apabila ada seseorang mengisahkan kepadanya bahwa ia melihat Nabi saw (dalam mimpi), maka Ibnu Sirin berkata: Sebutkanlah padaku ciri sifat-sifat orang yang engkau lihat tersebut. Jika orang tersebut menyebutkan sifat yang tidak dikenalnya, maka Ibnu Sirin mengatakan: sesungguhnya engkau tidak melihatnya”.

Berikutnya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani menyebutkan pula riwayat dari Ibnu Abbas ra dengan sanad Jayyid. Ibnu Kulaib berkata: Aku katakana pada Ibnu Abbas, “Aku melihat Nabi saw dalam mimpi. Ibnu Abbas berkata: Sebutkan ciri sifat-sifatnya padaku. Ibnu Kulaib berkata: Aku sebutkan Hasan bin Ali, lalu aku serupakan dengannya. Ibnu Abbas berkata: Sungguh engkau telah melihatnya”.

 

Menyikapi Mimpi

Kita sebagai orang yang mengaku mukmin, kadang tidak menyadari bahwa dunia adalah media jebakan semata dan momentum ujian keimanan dari Allahu SWT. Tidak ada yang “gratis” dalam hidup ini semuanya ada bayaran, menjadi iman atau kufur, termasuk lewat mimpi. Terserah kita memilih yang mana. Maka dari itu ada orang yang selamat diuji lewat mimpi, ada juga yang tersesat, sebagaimana orang-orang yang menjadikan mimpi sebagai media untuk mendapatkan ilmu agama.

Sebagian orang, menyibukkan diri dengan mimpi. Kemudian ia sebarkan mimpi tersebut. Tanpa ia cek lagi kebenarannya. Apabila mimpi bertemu Nabi, dalam mimpi tersebut ia mendapatkan amalan ini dan itu, tanpa ia cocokkan dengan Al Qur’an dan Hadits, langsung saja ia sebarkan. Ini penting. Terlebih dia seorang yang suka berceramah. Ucapannya bisa berpengaruh terhadap orang-orang yang belum mengerti. Jika demikian keadaannya, setan telah berhasil mempermainkannya. Dan memperalatnya untuk menyesatkan manusia.

Ketahuilah, hukum-hukum syariat tidak diambil lewat mimpi. Mimpi bukanlah rujukan dalam menentukan syariat. Dan agama ini telah sempurna setelah wafatnya Nabi Muhammad saw.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku. dan telah Ku­ridai Islam itu jadi agama bagi kalian”. (Q.S Al-Maidah: 3)

Seharusnya sadar, mimpi yang kita dapatkan berbeda dengan mimpi para Nabi. Mimpi para nabi adalah kebenaran. Sedangkan mimpi kita, terbagi menjadi tiga macam. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Masih ada dua kemungkinan salah, dari 3 kemungkinan yang ada.

Sebagaimana Muhammad Ibnu Sirin mengatakan bahwa mimpi itu ada yang benar dan yang tidak benar. Adapun mimpi yang benar adalah mimpi yang dilihat seseorang dalam keadaan yang stabil, tidak sedang memikirkan atau mengharap sesuatu. Sedangkan mimpi yang tidak benar adalah mimpi yang berasal dari bisikan hati, cita-cita, keinginan, mimpi bersenggama (seksual) juga mimpi yang menakutkan dan membuat pilu hati yang berasal dari setan maka mimpi seperti ini tidak ada tafsirannya.

Karena mimpi itu berbeda maka cara menyikapinya pun juga tidak sama antara satu dengan yang lainnya seperti sikap terhadap mimpi yang baik harus dibedakan dengan sikap terhadap mimpi yang buruk. Beberapa sikap yang harus dilakukan oleh seseorang terhadap mimpi yang dihadapinya lebih banyak tertuang dalam hadits-hadits Nabi saw,.

Mimpi akan terjadi sesuai dengan yang ditafsirkan seperti seseorang yang mengangkat kakinya dia menunggu kapan akan meletakkannya Bila sesorang diantara kalian bermimpi maka janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang dapat memberi nasihat atau kepada seorang yang alim.

Dalam hadis ini tersimpan pesan yaitu agar mimpi tidak diceritakan sembarangan hendaknya mimpi tidak diberitahukan kecuali kepada orang yang dapat memberi nasihat atau orang alim yang mengetahui tentang takwil mimpi itu karena mereka akan memilih makna yang terbaik atau menyampaikan pelajaran dan peringatan dari mimpi tersebut.

Pada hadis yang lain berbunyi: “Mimpi itu berada di kaki burung selama tidak ditakwilkan. Maka jika ditakwilkan, niscaya ia akan jatuh (terjadi).” Beliau bersabda: “Janganlah menceritakan mimpi kecuali kepada orang yang mencintaimu dan yang bijaksana mengerti takwil mimpi

Mimpi tidak boleh diceritakan kepada orang yang hasud bila mimpinya bermakna baik bagi pemimpi seperti nasihat Nabi Ya‟qub kepada putranya Nabi Yusuf as. yang diabadikan dalam al-Quran

Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Q.S Yusuf: 5)

Ayat ini menganjurkan untuk tidak menceritakan mimpi kepada orang yang hasud karena bisa jadi memancing mereka berbuat kejahatan karena dorongan kebenciannya, atau ia akan memberikan takwil dengan sesuatu yang tidak kita sukai karena adanya perasaan benci atau dengki pada diri kita, sehingga takwil tersebut menjadi kenyataan atau melahirkan perasaan sedih karenanya. Itulah sebabnya Rasulullah saw. memerintahkan agar jangan menceritakan kepada orang yang tidak suka kepadanya.

 

Penutup

Allah SWT telah menganugrahkan mimpi kepada orang-orang beriman seperti para Nabi, dan orang-orang shaleh sebagai isyarat atau kabar gembira. Namun, di masa sekarang permasalahan mimpi ini adalah sesuatu yang rancu. Orang-orang yang awam dan tidak bertakwa, mencoba menafsirkan mimpi dengan dugaan-dugaan mereka. Sekarang juga orang tidak lagi dapat membedakan mana mimpi yang baik dan mana mimpi yang buruk. Sehingga sebagian orang menyangka, apa yang mereka lihat di dalam mimpi adalah sebuah kebenaran. Kemudian mereka mencoba menafsirkannya. Padahal, boleh jadi itu merupakan bagian dari tipu daya setan, karena setan memiliki andil dalam mimpi kita, sehingga dengan mudah dia membuat bayangan mimpi untuk mengganggu pikiran manusia.

Perlu kita ingat bahwa Ahli takwil mimpi di zaman sekarang sangat jarang, dan hingga kini belum menemukan satu nama tokoh yang layak disebut ahli takwil mimpi. Beberapa acara televisi yang menawarkan takwil mimpi hanya menggunakan kalimat umum dan itupun berdasarkan apa yang nampak dalam mimpi.

Bisa jadi ada orang yang sok tahu, meskipun dia diustadzkan kemudian mentakwil mimpi jamaah yang bertanya kepadanya. Karena dia punya prinsip, malu tidak menjawab jika ditanya.

Bisa jadi takwil mimpi buruk yang disampaikan kemudian diwujudkan oleh Allah. Dan tentu saja, kita tidak berharap keburukan menimpa kita.

Setan adalah musuh manusia yang tidak akan lelah untuk mengganggu manusia di setiap waktu dan tempat. Sebagaimana pernyataan setan yang di abadikan dalam Q.S Al A’raf ayat 17 “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.

Mimpi yang baik dan yang buruk, jangan diceritakan kepada orang lain. Karena Nabi bersabda : “Mimpi itu bagaikan sesuatu yang tergantung pada kaki burung selama ia tidak diceritakan. Jika diceritakan, terjadilah ia.” (HR. Abu Dawud).

Bila mimpinya bermakna baik, kita cerceritakan kepada yang lain, bisa saja orang yang kita beritahu tentang mimpi baik tersebut, tidak senang dengan mimpi yang kita alami. Walaupun saudara kandung kita sendiri seperti mimpinya Nabi Yusuf as. Bapaknya yakni Nabi Ya‟qub melarang Nabi Yusuf as. Untuk menceritakan mimpinya kepada saudara kandungnya.

Jika mimpinya bermakna buruk, Rasulullah saw melarang menceritakan mimpi itu kepada siapapun, agar mimpi itu tidak memberikan dampak buruk kepadanya.

Yang perlu diperhatikan, agar mimpi yang dialami oleh kita merupakan mimpi yang baik, lebih-lebih mimpi bertemu dengan Rasulullah saw :

  • Hendaknya membiasakan diri berkata jujur, karena Nabi saw bersabda: “Orang yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya
  • Hendaklah tidur dengan punya wudhu (dalam keadaan suci), karena orang yang berwudhu sebelum tidur akan dido’akan malaikat. Dari Ibnu Umar Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa: Ya Allah ampunilah hamba-Mu si pulan karena tidur dalam keadaan suci”. (HR. Ibnu Hibban)
  • Posisi tidur sebagaimana tidurnya Rasulullah saw, yaitu dengan posisi kepala mengarah ke utara dan berbaring pada sisi kanan tubuhnya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw tidur pada sisi kanan tubuhnya, sedangkan tangan kanannya dibawah pipinya. Diriwatkan dari Aisyah ra. bahwa apabila ia naik ke pembaringan, beliau berdoa.

أَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رُؤْيَا صَالِحَةً، صَادِقَةً غَيْرَ كَذِبَةٍ، نَافِعَةً غَيْرَ ضَارّةٍ، حَافِظَةً غَيْرَ نَسِيَةٍ.

Aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik, benar, tidak dusta, bermanfaat tidak membahayakan dan dapat diingat serta tidak lupa

  • Jika bermimpi, mimpi baik ataupun mimpi buruk jangan menceritakannya kepada orang lain. Karena ada riwayat bahwa Nabi saw bersabda: “Mimpi akan terbukti sesuai dengan apa yang telah ditakwilkannya

Walaupun kepada saudara sendiri sebaiknya mimpi jangan diceritakan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as.

  • Jika mimpi bertemu dengan Rasulullah, hendaklah di cek kebenarannya dengan mencocokkan sifat fisik Rasulullah saw yang diterangkan dalam hadits-haditsnya.
  • Jangan berdusta tentang ihwal mimpi. Karena Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang berdusta tentang mimpinya, pada hari kiamat Allah akan menyuruhnya mengikatkan dua gandum (dan hal tersebut tidak dapat dilakukannya)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya pribadi dan pembaca umumnya. Demikianlah penjelasan tentang mimpi, Allah jualah yang memberikan taufik kepada kebenaran. Allahu A’lam.

Ditulis Oleh : Al-Ustadz Asep Subandi

Kabar Terbaru

Pesan dan Nasehat Oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor Menjelang Liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Tak terasa tinggal menghitung hari, Bulan Suci Ramadhan akan meninggalkan umat islam semua. Itu artinya hari kemenangan segera tiba,...

Informasi Lainnya

X