Celoteh Santri

Ketika Aku Menjadi Penguji Ujian Lisan

Menjadi Penguji Ujian Lisan di Pondok… Tak di duga Aku dipilih untuk menjadi Penguji Ujian Lisan di Pondok. Aku sadar bahwa menjadi Penguji Ujian Lisan merupakan sebuah tanggung jawab yang  besar buatku, karena ini berkaitan dengan keamanahan. Ini adalah saat dimana keamanahanku diuji, apakah Aku amanah atau tidak. Ketika terpilih menjadi Penguji Ujian Lisan, Aku berfikir, pantaskah Aku untuk menjadi seorang Penguji ?, apakah Aku dapat melaksanakan amanah ini dengan baik ?. Tapi dengan membaca basmalah, Aku meyakinkan diriku bahwa Aku bisa.

Menjadi Penguji Ujian Lisan bukanlah sesuatu yang mudah. Sebagai Penguji, Aku dituntut membuat seratus soal dari salah satu  mata pelajaran yang akan diujikan, yaitu Bahasa Inggris ( yang meliputi English Lesson, Vocabularies dan English Course ), Bahasa Arab ( yang meliputi Durusul Lughah, Mufradat, Muthala’ah, Nahwu dan Shorof ) dan Al-Qur’an ( yang meliputi Tajwid, Do’a-do’a dan Praktek Ibadah ). Aku mendapat tugas menguji English Course klelas 2 KMI. Setelah Aku mengetahui bahwa Aku menjadi Penguji pelajaran English Course, Aku segera pergi ke Ustadz Pengajarnya untuk menanyakan materi yang telah disampaikan, lalu membuat soal yang akan Aku ujikan. Setelah membuat soal, lalu Aku berikan ke Kantor KMI untuk dikoreksi. Setelah dikoreksi dan mendapat cap persetujuan, Aku lalu membacanya berulang-ulang untuk memudahkan diriku saat menguji nanti.

Waktu menguji akhirnya tiba. Ketika Aku duduk di kursi Penguji, Aku teringat diriku sewaktu masih kelas 1 KMI, ketika baru pertama kali menghadapi Ujian Lisan, Aku merasa sangat grogi karena ditanya oleh Ustadz. Sekarang Aku malah menjadi Penguji, dulu diuji sekarang menguji. Menjadi Penguji sesungguhnya melatih mental kita, bagaimana rasa kesal muncul ketika santri yang diuji tidak bisa menjawab pertanyaan kita, bagaimana perasaan kasihan kita saat memberikan nilai pada santri yang hanya bisa menjawab sedikit pertanyaan. Sebenarnya Aku merasa kasihan dengan santri yang hanya menjawab sedikit pertanyaan. Tapi apa boleh buat kemampuan mereka hanya segitu, mau tidak mau Aku harus menulis nilai yang sesuai dengan kemampuan mereka menjawab.

Enam tahun sudah Aku menjalani kehidupan Pondok, dan sebentar lagi Aku akan menghadapi Ujian Akhir yang tinggal beberapa bulan lagi ditambah Amaliyatu Tadris ( Praktek Mengajar ) dan Panitia Ujian Semester II. Walaupun demikian Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Pondok ini di akhir-akhir waktuku di Pondok ini.

By:  Mardha Affandi, Siswa Akhir KMI 2017

Tags

Daarul Abroor

Admin web Pondok Modern Daarul Abroor, Pesantren KMI satu-satunya di Sumatera Selatan.

Artikel terkait

Silahkan beri komentar...

Close