Kolom Ustadz

KAJIAN TAFSIR AL-BAQARAH AYAT 32 – 33

disampaikan oleh
Ustadz Masykur

 

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? ” (Al-Baqarah : 32 – 33).

قَالُوا سُبْحَانَكَ

Artinya kami semua mensucikan Engkau (Allah) dari sifat-sifat yang tidak pantas, yakni sifat keterbatasan pengetahuan sehingga penciptaan khalifah hanyalah kesia-siaan tanpa hikmah atau bertanya kepada Engkau mengenai sesuatu yang ingin kami ketahui. Engkau Maha Mengetahui atas keterbatasan pengetahuan kami, sehingga kami tak mampu menyebutkan nama-nama tersebut.

Kata “subhanaka” adalah ungkapan pengantar yang menunjukan pengertian taubat sebagaimana yang telah dikatakan Nabi Musa As.

سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ

Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau”. (Al-A’raf: 143)

Juga pernyataan Nabi Yunus As :

سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim“. (Al-Anbiya: 87)

لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا

Maksud pengetahuan disini ialah bersifat terbatas, tidak mencakup semua nama. Ayat ini juga merupakan pengakuan para malaikat atas ketidak mampuan mendatangkan apa yang dibebankan kepada mereka. Sekaligus ayat ini ingin menegaskan bahwa pertanyaan mereka itu memang meminta jawaban; bukan pertanyaan yang bersifat sanggahan. Ayat ini juga merupakan pujian terhadap Allah atas apa yang dianugrahkan kepada mereka berupa ilmu. Ungkapan para malaikat tersebut dibarengi dengan sikap rendah diri dan sopan santun yang tinggi. Jadi seakan-akan para malaikat itu mengatakan “Kami tidak mempunyai ilmu apapun kecuali yang Engkau berikan kepada kami, sesuai dengan bakat kami. Jika kami mempunyai bakat menerima ilmu yang lebih banyak, tentu Engkau sudah memberikan kepada kami”.

Kemudian para malaikat itu memperkuat pernyataan yang dahulu dengan perkataannya:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Jawaban mereka ini mengandung pengertian bahwa mereka telah menyadari dan kembali kepada kewajiban yang sebenarnya dan harus dilakukan, yakni menyerahkan segala sesuatunya kepada kebijaksanaan dan kekuatan Allah yang Maha Agung. Hal ini mereka lakukan setelah mereka menyadari bahwa mereka memang salah.

Ayat ini sekaligus merupakan perhatian bagi umat manusia agar menyadari kekurangan-kekurangannya. merekapun harus mengakui kemurahan dan kasih sayang Allah kepada mereka. ayat ini juga merupakan nasihat kepada manusia agar tidak berpura-pura mengetahui jika memang tidak mengetahui, dan hendaknya tidak menyembunyikan sesuatu yang ia ketahui.

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ

Perintah Allah agar Adam menyebutkan nama-nama benda itu juga dihadapkan kepada para malaikat yang sejak awal sudah menyatakan ketidak mampuan mereka. Allah berfirman “ambi’hum” bukannya “ambi’ni”. Ini merupakan isyarat bahwa pengetahuan Adam benar-benar sudah jelas sehingga tidak perlu melalui ujian. Hal ini sekaligus merupakan isyarat bahwa Adam sudah patut mengajar orang lain dengan ilmu yang dikuasainya. Ia benar-benar mempunyai bakat menjadi seorang guru yang dapat memberikan ilmu pengetahuan dan patut menduduki jabatan ini. Ayat ini juga merupakan penghargaan terhadap diri Adam berkat ilmu pengetahuan yang dikuasainya.

فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ

Ketika Adam menyebut nama-nama benda kepada para malaikat, Allah berfirman kepada para malaikat, “Telah aku katakan sejak semula, sesungguhnya Aku ini Maha Mengetahui hal-hal ghaib yang ada dilangit ataupun yang ada di bumi”.

Karenanya, Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa ada gurunya. Dan Aku (Allah) tidak menciptakan khalifah hanya untuk disia-siakan. Aku mengetahui perkataan kalian yang berbunyi, “Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana.” (Q.S Al-Baqarah: 30), dan apa yang terpendam dibenak kalian, yaitu pengertian yang mengatakan, “Bahwa Allah tidak akan menciptakan makhluk lain yang lebih mulia disbanding kita (malaikat), hanya kita (malaikat) yang berhak menjadi khalifah di bumi.”

 

Kekhalifahan di Bumi

Kandungan ayat ini menunjukan keutamaan manusia, terhadap makhluk-makhluk lainnya. Sekaligus menunjukan keutamaan ilmu disbanding masalah ibadah. Hal ini karena malaikat lebih banyak melakukan ibadah dibandingkan Adam, sekalipun mereka bukan ahli didalam memegang tampuk kekhalifahan. Sebab syarat memegang tampuk kekhalifahan adalah penguasaan ilmu, bahkan ilmu pengetahuan merupakan tulang punggung bagi berdirinya kekhalifahan itu sendiri. Dalam hal ini, Adam mempunyai keahlian lebih baik disbanding para malaikat karena Adam lebih banyak menguasai ilmu disbanding mereka. Dan selamanya, yang lebih utama ialah yang lebih banyak mempunyai ilmu, seperti yang pernah diungkapkan di dalam Al-Qur’an:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (az-Zumar : 9)

 

Dalam masalah pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi terkandung makna luhur, yakni hikmah lahiriah yang samar bagi para malaikat. Sebab, jika para malaikat itu diberi wewenang sebagai khalifah di bumi, jelas mereka tidak akan mampu mengetahui rahasia-rahasia alam dan ciri-ciri khasnya. Disamping itu, para malaikat tidak mempunyai kebutuhan terhadap bumi ini. Hal ini karena asal kejadian malaikat dengan manusia adalah berlainan. Mereka tidak akan mengetahui bahwa bumi ini bisa ditanami berbagai tumbuhan. Mereka tidak akan mengetahui bahwa didalam perut bumi terdapat aneka ragam logam, bahkan mereka tidak mengetahui bagaimana cara mengeluarkan tambang-tambang tersebut. Merekapun takkan mengetahui susunan kimia bumi dan tabi’at alam. Mereka takan mengetahui masalah astrologi dan ilmu kedokteran. Jelasnya, mereka takkan dapat mengetahui ilmu pengetahuan manusia yang penemuannya membutuhkan masa bertahun-tahun dan terus berkembang tiada batasnya.

Tags

Artikel terkait

Silahkan beri komentar...

Close