Kolom Ustadz

Ikhlas Itu Ruh Semua Amal

Amal itu seumpama jasad, sedangkan keikhlasan adalah Ruhnya. Ibnu Atha’illah al-Iskandari

Amalan itu bergantung pada keikhlasan yang merupakan pekerjaan hati. Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkannya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk. Walaupun para ulama berbeda redaksi dalam mendefinisikan ikhlas tapi tujuannya satu yaitu beramal hanya karena Allah SWT.

Ikhlas itu laksana ruh yang menjadikan jasad hidup, sedangkan amal itu ibarat jasad yang tak bernyawa. Tidak ada artinya jasad tanpa ruh, sama halnya ruh tidak mungkin bisa eksis tanpa jasad. Frasa keikhlasan yang murni merupakan bentuk penegasan, karena keikhlasan itu mengandung arti kemurnian. Keikhlasan seseorang berbeda-beda, yang jelas bersihnya amal dari sifat riya’ yang nyata maupun yang tersamar dan dari sifat sum’ah serta dari niat yang didasari hawa nafsu. Ikhlas itu tak mengharap apa-apa dari amalnya kecuali karena Allah, senada dengan falsafah jawa yaitu “Sepi ing pamrih

Penyakit itu Bernama Riya, Sum’ah, Ujub dan Takabur

Jika amal ibarat jasad, maka jasad kadang terjangkit penyakit. Begitupun amal, banyak sekali penyakit-penyakit yang dapat merusaknya, diantaranya yang paling banyak menyerang adalah penyakit Riya, Sum’ah, Ujub dan Takabur. Keempat penyakit tersebut mempunyai kedekatan makna walaupun hakikatnya berbeda dalam definisi.

Jika dilihat dari definisinya riya secara bahasa berasal dari kata Ru’yah yang artinya menampakkan atau memperlihatkan. Secara istilah riya adalah melakukan amal kebaikan bukan karena Allah semata, melainkan memperlihatkan kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan.

Sum’ah berasal dari kata samma’a artinya memperdengarkan. Dalam istilah sum’ah adalah sikap seseorang yang membicarakan atau memberitahukan amalnya yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi dari orang lain dengan dengan harapan agar dirinya mendapatkan kedudukan, penghargaan atau mendapatkan keuntungan materi.

Baca juga : Obat galau menurut Islam

Ujub berasal dari kata ‘ajiba – ya’jabu yang bermakna kagum atau bangga. Secara istilah Ujub yaitu mengagumi diri sendiri ketika kita merasa memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Pengertian itu selaras dengan pendapat Ibnu Mubarok: “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Imam Ghazali juga menuturkan: “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah SWT.

Sedangkan takabur berasal dari takabbaro-yatakabbaru yang berarti sombong, dalam bahasa Indonesia memiliki persamaan dengan kata angkuh, congkak, tinggi hati atau besar kepala. Istilah lain dari takabur yaitu engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu, kedudukannya tidak sama dengan kedudukanmu. ringkasnya orang lain tidak sama dengan dirinya.

Apapun pengertian penyakit-penyakit amalan itu, semuanya adalah perusak amal yang masuk kedalam hati secara sadar ataupun tidak. Bagaikan semut hitam yang berjalan diatas batu hitam pada malam gelap gulita. Perumpamaan orang yang beramal dan terjangkit penyakit diatas laksana orang yang memenuhi dompetnya dengan kerikil lalu masuk pasar untuk membeli sesuatu. Ketika membukanya dihadapan penjual ternyata kerikit tersebut tidak ada gunanya dan tidak mendapatkan apa-apa dari isi dompetnya, kecuali cibiran dan hinaan dari orang-orang.

Antara Niat dan Ikhlas

Niat dan ikhlas, dua hal yang fundamental dalam beramal. Niat dan ikhlas merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan, sehingga secara syara’ disebutkan ikhlas itu membersihkan niat dalam beramal semata-mata hanya karena Allah SWT. Idealnya niat itu tujuannya untuk Allah SWT dan dimurnikan dengan ikhlas. Niat dan ikhlas adalah amalan hati, hanya Allah yang tahu seseorang sudah benar-benar berniat dengan ikhlas atau belum. Niat dan ikhlas adalah penentu diterima atau tidaknya suatu amalan, niat menentukan tujuan dari sebuah amalan dan ikhlas menentukan hasil amalan.

Niat dikerjakan diawal dan di dalam beramal, sedangkan ikhlas perlu dijaga bukan saja di awal amal melainkan selama amal tengah dijalankan dan juga setelah amal usai dilaksanakan. Abdullah bin Mubarak berkata: “Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar disebabkan niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh sebab niat”. Ada yang mengatakan “Ikhlas suatu saat merupakan keselamatan sepanjang masa, karena ikhlas adalah sesuatu yang sangat mulia”.  Berniatlah dengan ikhlas karena itu akan menentukan hasil dari amal perbuatan yang telah kita lakukan. Sungguh kesia-siaan bila beramal tak mendapatkan hasil.

Ditulis oleh : Al Ustadz Asep Subandi

Tags
Back to top button
Close
X