Fiqh

Hukum Shalat Orang Yang Bertato

Tatto dalam Bahasa Indonesia disebut Cacah. Dan dalam Bahasa Arab disebut Alwaymu. Yaitu mencocok-cocok bagian badan sampai keluar darah, membentuk gambar-gambar, dan tulisan-tulisan, kemudian diwarnai dengan zat yang tidak luntur, seperti Indigo atau Nila, yang dimasukkan kedalam lobang-lobang yang bercampur darah. Maka gambar-gambar yang tampak itu adalah campuran antara Indigo dengan darah yang najis, yang terwujud pada dzahir badan.dalam istilah kedokteran kerja ini disebut tatou’eren. Dalam ilmu kedokteran dilakukan  untuk membuat warna bercak-bercak menyamai warna kulit yang fithri dan untuk membuat bercak-bercak di selaput bening (cornea) tidak melakukan sinar. Tatto di masyarakat adalah pekerjaan tambahan yang dibuat untuk hiasan badan ataupun uantuk gagah-gagahan. Sampai ada yang berpendapat seorang preman atau juara tanpa tatto adalah kurang cukup persyaratan. Ada pula yang melakukannya karena ikut-ikutan saja atau untuk perintang-perintang waktu. Ada pula sebagian wanita yang membuatnya hanya sedikit saja, untuk tahi lalat palsu. Tapi inipun masuk dalam kategori tatto.

Sebagai kesimpulan dapatlah kami bawakan disini apa yang tersebut dalam kitab Alhawasyil Madanuyyah juz ke II buah tangan tuan Syekh Muhammad bin Sulaiman Alkurdi Almadani halaman 204 sebagai berikut :

(قَوْلُهُ وَالْوَشْمُ) هُوَ غَرْزُ الْجِلْدِ بِاْلإِبْرَةِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يُذَرُّ عَلَيْهِ مَا يُحْشَى بِهِ الْمَحَلُّ مِنْ نِيْلَةٍ اَوْ نَحْوِهَا لِيَزْرَقَّ اَوْ لِيَسْوَدَّ

Artinya :

Tatto itu adalah mencocok-cocok kulit dengan jarum sampai keluar darah, kemudian ditaburkan diatasnya sesuatu yang dimasukkan kedalamnya dari pada nila atau semisalnya agar menjadi biru atau hitam.

Adapun hukum membuat tatto, baik bagi laki-laki maupun perempuan adalah haram. Tersebut dalam kitab Manhajul Qawim bagi Syekh Ibnu Hajar Alhaitami, halaman 149 sebagai berikut :

                وَيَحْرُمُ وَصْلُ الشَّرْعِ وَتَفْلِيْجُ الْأَسْنَانِ وَالْوَشْمُ لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ فَاعِلَ ذلِكَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ

Artinya :

Dan haram menyambung rambut (dengan cemara atau week) dan membelah/merenggangkan gigi dan membuat tatto, karena bahwasanya Rasulullah saw. mengutuk orang yang membuat hal tersebut dan yang dibuatkan baginya

 Adapun hadist yang menunjuk kepada larangan ini adalah apa yang ditakhrijkan oleh Imam Ahmad, Albukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud ra. berkata ia :

 

لَعَنَ اللهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ تَعَالَى وَقَالَ مَالِى لَااَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya :

Telah mengutuk Allah akan wanita yang membuatkan tatto, dan yang minta dibuatkan tatto, yang mencukur bulu alis dan yang merenggangkan gigi untuk keindahan, mereka yang merubah-rubah kejadian yang dibuat Allah. Dan kata Ibnu Mas’ud : Apa alasanku tidak mengutuk orang yang telah dikutuk oleh Rasulullah saw.

Dan dari Ibnu Umar :

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَوَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

Artinya :

Bahwa Nabi saw. mengutuk wanita yang memakaikan cemara yang minta dipakaikan cemara, dan yang membuatkan tatto dan yang minta dibuatkan tatto.

Sekarang kalau tatto itu sudah terlanjur dibuat, apakah untuk sahnya bertaubat daripada keharamannya itu, tattonya mesti dihilangkan ?. Ya betul !!! tattonya mesti dihilangkan, jika pelaksanaan untuk menghilangkannya tidak membawa kepada menyakitkan badan. Apalagi diperoleh semacam obat yang mudah menghilangkan tatto tersebut wajiblah diusahakan, tetapi dengan catatan, tidak membuat penyakit yang baru. Ada sebagian pemakai tatto karena bertaubat menghilangkan tattonya dengan air keras, sehingga membuat bagian yang terkena air keras itu radang dan luka, mengoreng membulan dan menahun, tak sembuh-sembuh. Mereka berbuat demikian, mungkin karena beroleh informasi yang salah sehingga tersiksa diri mereka karenanya. Padahal kita dilarang menjerumuskan diri kedalam kebinasaan. Sudahlah, kalu memang tatto tidak dapat dihilangkan dengan obat yang tidak menyakitkan, tak usahlah tatto itu dilumuri getah embacang sampai mengoreng, lalu mencabut isi Indigo yang bercampur najis itu dari lubang-lubang badan yang sempit dan menyakiti. Asal taubatan nashuha insya Allah bekas-bekas tatto itu dimaafkan dan di ampunkan. Dan dimaafkanlah najis yang mengisi cela-cela lubang itu, untuk melakukan sembahyang. Jika benar saja taubatnya dan tidak kembali lagi kepada perbuatan yang dikutuk Allah dan Rasul itu.

Tersebut dalam I’anatutthalibin juz 1, halaman 107, sebagai berikut :

تَجِبُ اِزَالَةُ الْوَشْمُ وَهُوَ غَرْزُ الْجِلْدِ بِالْإِبْرَةِ اِلَى اَنْ يُدْمَى ثُمَّ يُذَرُّ عَلَيْهِ نَحْوُ نِيْلَةٍ فَيَحْضَرُّ لِحَمْلِهِ نَجَاسَةً هَذَا اِنْ لَمْ يَخَفْ مَحْذُوْرًا مِنْ مَحْذُوْرَاتِ التَّيَمُّمِ السَّابِقَةِ فِى بَابِهِ اَمَّا اِذَا خَافَ فَلَا تَلْزَمُهُ الْإِزَالَةُ مَطْلَقًا

Artinya :

Wajib menghilangkan tatto. Yaitu mencocokkan kulit dengan jarum sampai berdarah, kemudian dibubuhkan atasnya seumpama nila maka menjadi hijau, karena menanggungnya akan najis ini, jika tidak takut ia akan hal-hal yang ditakuti dalam bab tayammum yang telah terdahulu pada babnya. Adapun apabila ia takut, maka tidaklah melazimkan dia menghilangkannya dengan muthlak.

Adapun yang dimaksud dengan apa-apa yang ditakuti dalam masalah tayammum adalah : dapat mendatangkan penyakit, atau bertambah-tambah penyakit yang sudah ada, atau menjadikan penyakit yang sudah ada lambat sembuh, atau dapat menimbulkan cacat yang menyolok pada anggota yang dzahir, sebagaimana hal tersebut diutarakan dalam kitab-kitab fiqih. Jika sekiranya seseorang sudah beroleh maaf untuk tidak menghilangkan tattonya karena dapat mendatangkan penyakit yang parah, maka terangkatlah hadastnya dengan mengangkat hadast, dimaafkanlah najasah yang terdapat pada tattonya dan sahlah sembahyangnya dan sah pula menjadi imam untuk sembahyang.

Tersebut dalam Hasyiatul Jamal atas Syarhul Manhaj, juz 1, halama 417, sebagai berikut.

وَاِلَّا عُذِرَ فِى بَقَائِهَ وَعُفِيَ عَنْهُ بِالنِّسْبَةِلَهُ وَلِغَيْرِهِ وَصَحَتْ طَهَارَتُهُ وَاِمَامَتُهُ

Artinya :

Dan jika tidak, niscaya diudzurkanlah pada kekalya, dan dimaafkan daripadanya terbanding kepada dirinya untuk orang lain dan shahlah bersucinya, dan menjadi iamamnya.

Disarikan dari buku 100 Masalah Agama, Jilid 6.

Close
Close
X