Kolom Ustadz

Hormat Kepada Guru

إِنَّ الْـمُـعَلِّمَ وَالطَّـبِيْبَ كِـلاَهُـمَا # لَا يَنْصَحَـانِ إِذَا هُـمَا لَمْ يُكْــرَمَافَاصْبِرْ لِدَائِكَ إِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا # وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ إِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا

Sungguh seorang guru dan dokter keduanya tidak akan memberi nasehat, apabila keduanya tidak dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu, jika kamu mengabaikan (membantah) dokter, dan terimalah kebodohanmu, bila kamu membangkang pada Guru.

Diriwayatkan dari Imam Ali beliau berkata : “Bahwa saya adalah hamba sahaya orang yang mengajariku walaupun satu huruf. Jika ia menghendaki, ia bisa menjualku dan ia juga bisa memerdekakanku atau ia menjadikanku sebagai budaknya”.

Pernah suatu ketika Imam Halwani pergi ke Negri Bukhara dan singgah di suatu desa beberapa waktu karena ada hal yang mengharuskan beliau tinggal untuk sementara waktu. Kemudian beberapa muridnya mengunjunginya. Ada seorang murid yang bernama Al – Qadhi Abu Bakar tidak mengunjunginya. Imam Halwani kemudian berkata kepada Abu Bakar ketika bertemu di waktu yang lain: Kenapa engkau tidak menjengukku? Al – Qadhi Abu Bakar menjawab saya sibuk melayani ibuku. Imam Halwani berkata: Kamu diberi rizki umur namun kamu tidak diberi rizki nikmatnya belajar. Perbuatan Al – Qadhi Abu Bakar termasuk menyakiti (mengecewakan) gurunya (Imam Halwani).

Tersirat dalam kisah tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus selalu menghormati guru kita, walaupun kita sudah lulus (tidak diajar lagi oleh guru kita). Sebisa mungkin kita tidak boleh menyakiti guru kita, seperti halnya sikap Al – Qadhi Abu Bakar tidak pernah mengunjungi (ber silaturrahim) kepada gurunya.

Umar As-Sufyani mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Guru merupakan aspek paling besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama. Para pewaris nabi begitu julukan mereka para pemegang kemulian ilmu agama. Tinggi kedudukan mereka di hadapan Sang Pencipta. Ketahuilah saudaraku para pengajar agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar.

Para guru wajib diperlakukan sesuai dengan haknya. Wajib hormat kepada Guru. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid. Sungguh mulia akhlak mereka para suri tauladan kaum muslimin, sungguh keberkahan ilmu mereka buah dari akhlak mulia terhadap para gurunya.

Merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya. Kamipun mendapati di tempat kami menimba ilmu saat ini, atau pun di tanah air, para guru, ulama, serta ustad begitu tinggi akhlak mereka, tak lepas wajahnya menebarkan senyum kepada para murid, sabarnya mereka dalam memahamkan pelajaran, sabar menjawab pertanyaan para tholibul ilm yang tak ada habisnya, jika berpapasan di jalan malah mereka yang memulai untuk bersalaman.

Ikhlaskanlah yang Dilakukan Guru Kepadamu

Tidak ada satupun manusia di dunia ini kecuali pernah berbuat dosa, sebaik apapun agamanya, sebaik apapun amalnya nya, sebanyak apapun ilmunya, selembut apapun perangainya, tetap ada kekurangannya. Tetap bersabarlah terhadap mereka dan jangan berpaling darinya.

Allah berfirman : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al Kahfi: 28).

Karena tidak ada yang lebih baik kecuali bersama orang orang yang berilmu dan yang selalu menyeru Allah Azza wa Jalla. Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya (tidak senang kepada guru)

Besar jasa para guru yang telah memberikan ilmunya kepada kita, yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran, sungguh tak pantas seorang murid ini melupakan kebaikan gurunya. Jasa guru tak bisa diukur dengan uang, bila jasa seorang guru diukur dengan uang mungkin satu huruf yang beliau ajarkan minimal berbalas seribu dirham. Seorang penyair berkata :

رَأَيْتُ أَحَقَّ الْحَقِّ حَقَّ الْمُعَلِّمَ # وَأَوْجَـبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

لَقَدْ حَقَّ أَنْ يُهْدَى إِلَيْهِ كَرَامَةً # لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ أَلْفُ دِرْهَمٍ

Tidak ada hak yang lebih besar kecuali hak seorang guru, ini wajib dipelihara oleh setiap orang Islam. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar,walau satu huruf diberi hadiah 1.000 dirham sebagai tanda hormat kepadanya”.

Kesuksesanmu Berawal dari Keberkahan Ilmu

Setinggi apapun pangkatmu, sebesar apapun jabatanmu, semuanya karena keberkahan ilmu yang kau dapat dari gurumu. Al-Qadhi Fahruddin adalah seorang Imam di daerah Marwa yang sangat dihormati oleh para pejabat Negara, beliau berkata: “Aku mendapatkan kedudukan ini karena aku menghormati guruku (Abu Yazid Ad-Dabusi). Aku selalu melayani beliau dan memasakkan makanan untuknya”.

Dikatakan dalam kitab Ta’limul Muta’allim: “Maka barangsiapa yang menyakiti gurunya, maka barakah ilmu akan ditutup dari hadapan orang tersebut. Dan ia tidak akan pernah mengambil manfaat dari ilmu itu kecuali sedikit”.

Banyak orang setelah lulus dari menuntut ilmu menjadi seorang guru (ataupun guru ngaji), PNS, menjadi karyawan perusahaan, jadi pengusaha, memiliki posisi yang tinggi di tempat ia bekerja, atau ada yang menjadi perangkat desa seperti P3N, Mudin, Sekdes bahkan ada yang jadi Kades. Ketahuilah bahwa kesuksesanmu semuanya berkat guru-gurumu.

Ilmu yang berkah membawa kepada kebaikan dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, ilmu yang berkah menghantarkan jabatan kita kepada kebaikan. Jika ada orang yang memiliki jabatan yang tinggi, tapi tidak membawa kebaikan di dunia lebih-lebih di akhirat, maka sudah bisa dipastikan orang tersebut telah dicabut keberkahan ilmunya.

Salah satu sikap yang buruk yaitu orang yang mendapatkan kedudukan yang tinggi tapi ia lupa dengan guru-gurunya, tidak pernah bersilaturahmi kepadanya, apalagi mendoakannya. Itu termasuk menyakiti hati seorang guru.

Bagi seorang guru tidak pantas minta dihormati muridnya, tapi sangat tidak pantas lagi jika seorang murid tidak menghormati gurunya, itu merupakan sikap tak tahu diri. Karena menghormati guru adalah kewajiban seorang murid, walaupun sudah tidak lagi belajar kepada sang guru. Ingatlah, bahwa guru-guru selalu mendoakan muridnya, walaupun murid tersebut tidak pernah menghormatinya.

Ditulis oleh Ustadz Asep Subandi

Baca juga: Pelajaran mendasar dari Orang Tua.

Tags
Back to top button
Close
X