Dahsyatnya Kata ”INSYAALLAH”

Wajib Dibaca

SekPim
Sekretaris Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor.

 

Dan janganlah sekali-kali engkau mengucapkan : Sesungguhnya aku akan melakukan hal itu besok. Kecuali (dengan mengucapkan) InsyaAllah. Dan ingatlah Tuhanmu ketika engkau lupa. Dan Ucapkanlah: Semoga Tuhanku memberikan petunjuk pada jalan terdekat menuju hidayah”(Q.S Al-Kahfi: 23-24).

Pendahuluan

Terkadang kita sering melihat atau bahkan melakukan sebuah percakapan, dan menentukan pertemuan berikutnya. Ketika ditanya apakah kita mampu, maka kita akan menjawab dengan ucapan “Insya Allah”. Ucapan tersebut merupakan kalimat terpopuler di kalangan umat Islam setelah salam.

Di Amerika Serikat kata “Insya Allah” tiba-tiba menjadi populer dan tranding / viral di media cetak ataupun media online sejak diucapkan calon presiden (capres) Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, di saat acara debat kandidat di Ohio pada hari selasa tanggal 29 september 2020 lalu.

Namun sangat disayangkan, bahwa ungkapan ini mengalami perubahan makna, karena sering diucapkan oleh orang yang tidak serius dengan ajaran agama Islamnya. Terkadang juga kata insya Allah dimaknai lebih kepada “belum tentu akan terjadi atau tidak akan dilakukan”. Bahkan terbiasa diungkapkan sebagai “negasi” atau mengatakan “tidak”.

Seolah ketika seseorang mengatakan insya Allah dia mengungkapkan niat tidak akan melakukan sesuatu yang dimaksud. Insya Allah dijadikan ungkapan lain untuk mengatakan “tidak” pada sesuatu. Sesungguhnya itu merupakan sebuah pemahaman yang jelas kontra dengan makna insya Allah yang sesungguhnya.

Bahkan lebih disayangkan lagi seringkali ungkapan itu dijadikan bahan “pengolokan” atau “penipuan”. Dengan insya Allah seseorang dapat membohongi orang lain di sekitarnya. Dan akhirnya kalimat Insya Allah pun berubah maknanya. Untuk mengetahui makna dan fungsi kata Insya Allah, mari kita bahas berdasarkan kajian secara ilmiah.

Makna Kata Insya Allah

Ungkapan “إِنْ شَاءَ اللهُ” berasal dari Bahasa Arab. Kalimat tersebut sering digunakan oleh masyarakat umum tanpa diterjemahkan, karena kerap kali diucapkan maka sudah menjadi bagian dari Bahasa kita. Mengingat huruf Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab berbeda, maka kita perlu melakukan transliterasi untuk menuliskan ungkapan ini dengan huruf latin. Untuk mengenai bagaimana transliterasi yang tepat, maka kita kembalikan kepada aturan baku masalah infiltrasi kata dan Bahasa. Namun banyak ditulis umumnya masyarakat kita dengan bentuk kata “Insya Allah”. Dan dalam Bahasa Inggris kita jumpai transliterasinya bertuliskan “In Shaa Allah

Didalam Bahasa Indonesia “Insya Allah” memiliki arti “Jika Allah Menghendaki”. Maknanya adalah, segala sesuatu terjadi atau tidak terjadi adalah atas kehendak Allah. Kata ini diucapkan seorang muslim ketika berjanji atau berencana mengerjakan sesuatu. Sebab kita tidak tahu apakah hal yang akan dikerjakan nanti benar-benar terjadi atau tidak.

Dibalik segala yang akan kita lakukan ada Sang Penentu (Yakni Allah SWT). Kata “Insya Allah” merupakan wujud pengakuan atas kelemahan diri kita dihadapan Allah sembari ikhtiar atau bekerja keras, karena proses yang ditempuh belum ada kepastian hasil.

Kata Insya Allah juga mengandung doa. Yakni doa isti’anah, meminta pertolongan kepada Allah agar apa yang ia janjikan atau ia rencanakan dimudahkan Allah SWT. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mengucapkannya ketika mengatakan akan berbuat sesuatu di masa yang akan datang.

Asbabun Nuzul Surat Al-Kahfi Ayat 23-24

Dalam kitab Asbabun Nuzul karya Imam As-Suyuti mengenai sebab turunnya surah al-Kahfi ayat 23-24, menurut Ibnu Mardawaih yang juga meriwayatkannya dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: Nabi saw pernah bersumpah, dan setelah empat puluh malam berlalu, maka Allah menurunkan Ayat, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu. Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) Insya Allah”.

Dan di dalam buku Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995) menukil riwayat tentang sebab turunya surah Al-Kahfi ayat 23-24. Suatu hari, kaum Quraisy mengutus An-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu’ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad.

Lalu, pendeta Yahudi berkata, “Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh.”

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok.” Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat “insya Allah”.

Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan “Insya Allah“. (QS al-Kahfi: 23-24).

Ucapan Insya Allah dalam Al Qur’an

Selain di surat Al Kahfi ayat 24, ungkapan Insya Allah juga terdapat di surat dan ayat yang lain. Diantaranya:

  • Di Surat Ash Shaffat ayat 102, ketika Nabi Ismail mematuhi perintah Allah, ia berkata:

 “…Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

  • Di Surat Al Qashash ayat 27, ketika Nabi Syu’aib berjanji kepada Musa akan menikahkannya dengan putrinya, ia berkata :

…Dan, kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.”.

  • Di Surat Yusuf ayat 99, ketika Nabi Yusuf menjamin keamanan kepada ayah ibunya dan saudara-saudaranya, ia berkata:

…Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.”.

  • Di Surat Al Kahfi ayat 69, ketika Nabi Musa bertemu Nabi Khidir, Nabi Musa ingin mengambil ilmu darinya.

Nabi Musa berkata : Engkau akan mendapati aku Insya Allah sebagai orang yang sabar dan tidak akan bermaksiat terhadap perintahmu”.

Dahsyatnya Ucapan Insya Allah

Ucapan Insya Allah adalah sebuah penegasan bahwa sesuatu itu hanya akan terjadi dengan iradah atau kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Ungkapan ini adalah ungkapan iman, khususnya dalam konteks keimanan kita kepada Qadar atau takdir Allah Ta’ala.

Jika kita memiliki azam yang kuat untuk sesuatu yang baik dan tidak disertai dengan mengucapkan Insya Allah, boleh jadi sesuatu yang baik tersebut bisa tidak tercapai. Sebagaimana kisah Nabi Sulaiman as yang berazam akan menggilir 100 istrinya pada suatu malam, sehingga dari tiap istrinya ia berharap agar bisa melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah, tetapi ia lupa mengucapkan kata “Insya Allah” alhasil tak seorangpun melahirkan keturunan kecuali satu istri dan itu pun anaknya tidak sempurna. Hal ini disebutkan dalam riwayat Imam Al Bukhari dan Imam Muslim : Telah menceritakan kepadaku Mahmud, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata: Sulaiman bin Dawud ‘AS berkata, Sulaiman bin Dawud as berkata: “Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) 100 istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah.”

Malaikat mengucapkan kepada beliau: “Ucapkan Insya Allah.” Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa.

Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya. Hasilnya, tidak ada yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia.

Nabi saw lantas bersabda: “Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Ucapan Insya Allah mendatangkan kemudahan dari Allah, dengan dikabulkannya hajat yang di inginkan. Di sisi lain, jika hajat tersebut atas takdir Allah tidak terpenuhi, maka ia tidak digolongkan sebagai orang yang ingkar.

Ucapan Insya Allah biasa kita dengar dari lisan seorang muslim, namun apa jadinya jika ucapan Insya Allah kita dengar dari orang non-Muslim atau tidak beriman. Apakah memiliki manfaat? Jika kita merujuk kepada hadits, ucapan Insya Allah ternyata bisa membuat dinding penghalang Ya’juj dan Ma’juj hancur. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi saw, beliau bersabda:

Mereka melubangi setiap hari, hingga ketika mereka hampir saja melubanginya, maka pemimpin di antara mereka berkata, ‘Kembalilah, esok hari kalian akan melubanginya.’” Rasul bersabda, “Lalu Allah mengembalikannya tokoh seperti semula, sehingga ketika mereka telah mencapai waktunya, dan Allah berkehendak untuk mengutus mereka kepada manusia, maka orang yang memimpin mereka berkata, ‘Kembalilah, esok hari insya Allah (dengan izin Allah) kalian akan melubanginya.’ Dia mengucapkan istisna (insya Allah).” Nabi bersabda, “Lalu mereka kembali sementara penutup tersebut tetap dalam keadaan ketika mereka tinggalkan, akhirnya mereka dapat melubanginya dan keluar ke tengah-tengah manusia, kemudian mereka meminum air dan manusia lari dari mereka.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Kaum perusak sekelas Ya’juj dan Ma’juj saja bisa berhasil meskipun tanpa sengaja mengucapkan Insya Allah, bagaimanakah halnya dengan kita umat Islam? apalagi jika disertai dengan kesadaran dan penuh kepastian mengucapkannya. Yakinlah Janji Allah swt selalu benar, Dia lah sebaik baik penepat Janji.

Penutup

Dengan mengucapkan Insya Allah, berarti kita semua bergantung kepada Allah untuk menentukan apakah sesuatu itu bisa dilakukan dengan baik atau tidak.

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami’ul Bayan menjelaskan, “Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT.

Sungguh agung makna kata “insya Allah”. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal. Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid). Kedua, menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial.) Ketiga, menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT. Keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Bagaimana jika kata “Insya Allah” dijadikan tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab? Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa. Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya. Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan rekan, kawan, atau relasi. Wallahu a’lam.

Ada dua bentuk penyalahgunaan terhadap kalimat ini. Pertama: Ucapan “Insya Allah” dipakai untuk menunjukkan janji yang longgar dan komitmen yang rendah. Kata tersebut diamalkan bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa, tapi digunakan secara keliru sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Seakan-akan, kalimat Insya Allah hanya sebagai pengganti dari kalimat “tidak janji.” Saat kita diundang oleh seorang teman, kita jawab dengan enteng “Insya Allah”, sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangannya.

Kedua : Kata Insya Allah dipahami sebagai tindakan fatalism. Fatalism yaitu bahwa segala tindakan ditentukan oleh Allah. Kata insya Allah dibuat justifikasi untuk menafikan segala bentuk ikhtiar manusia. Artinya, manusia tidak memiliki ruang kebebasan untuk bertindak dan berbuat. Paham ini jelas tidak tepat karena Allah menganugerahi manusia kebebasan berkehendak.

Akibat dari penyalahgunaan kata Insya Allah ini, kita dapat menyaksikan dampak buruk yang luar biasa bagi perkembangan dan kemajuan peradaban manusia, terutama dunia Islam.

 

Ditulis Oleh : Al-Ustadz Asep Subandi

Kabar Terbaru

Pesan dan Nasehat Oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor Menjelang Liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Tak terasa tinggal menghitung hari, Bulan Suci Ramadhan akan meninggalkan umat islam semua. Itu artinya hari kemenangan segera tiba,...

Informasi Lainnya

X