BERIBADAH SECARA SYARI’AT DAN HAKEKAT

Wajib Dibaca

SekPim
Sekretaris Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah’’.

(Q.S. Asy-Syura : 21)

Seiring dengan perjalanan waktu, semakin jauh umat muslim dari masa kenabian, maka muncullah berbagai keyakinan dan ideologi (pemikiran) dari luar al-Qur`an dan as-Sunnah yang mengintervensi aqidah Islamiyyah. Beragamnya keyakinan dan ideologi yang berasal dari luar al-Qur’an dan as-Sunnah mengakibatkan tumbuhnya ajaran dan pemahaman menyimpang, sehingga menodai kejernihan dan keutuhan aqidah Islamiyah.

Ada sebuah pernyataan yang mengusik pikiran, pernyataan tersebut mungkin tidak asing lagi bagi kita. Diantara ungapan tersebut ‘’Orang yang sudah mencapai derajat Hakekat, tidak lagi dibebankan syari’at’’. Dari pernyataan itulah muncul fenomena spiritual orang yang mencapai derajat hakekat tidak lagi seperti orang pada umumnya lakukan.

Ada sebuah kisah, seorang guru spiritual berjalan bersama para muridnya. Salah seorang muridnya menghampiri dirinya dan bertanya, ‘’Syekh,’’! kita menuju ke mana?’’ Syekh tetap berjalan tanpa menjawab petanyaan muridnya. Tidak lama kemudian, sang syekh menyapa muridnya, ‘’Maaf, Nak, saya tadi masih sedang shalat. Kita terus saja melanjutkan perjalanan, di depan nanti kita belok kanan memotong jalan.’’ Sang murid mengikuti petunjuk syekhnya sambil bertanya di dalam hati, bagaimana caranya syekh shalat sementara ia tetap berjalan.

Dalam kesempatan lain, ada juga beberapa murid menyapa dirinya tetapi bergeming, tetap ia duduk, berdiri, atau berjalan dengan tenang. Akhirnya sang murid menyimpulkan bahwa syeknya dalam segala kesempatan selalu shalat. Ada shalat yang dilakukan secara normal seperti orang-orang lain, berdiri, rukuk, sujud, dan duduk. Dalam kesepatan lain ia juga selalu shalat walaupun hanya dalam hati.

Kisah yang kedua, saya mendengarnya ketika usia saya masih SD. Pada waktu itu ada salah seorang tetangga saya yang background pendidikannya dari pesantren, dia mengisahkan orang-orang shaleh kepada temannya termasuk saya sebagai pendengarnya. Kemudian sampailah pada kisah seorang Kiyai yang tidak pernah terlihat shalat Jum’at di masjid, dan tetangga saya memberikan alasan untuk membela sang kiyai tersebut dengan mengatakan bahwa kiyai tersebut shalat Jum’atnya di Masjidil Haram (di Makkah).

Kisah-kisah diatas merupakan gambaran shalatnya orang yang dianggap sebagian kelompok sudah mencapai derajat hakekat. Dia tidak lagi mengindahkan aturan-aturan syari’at yang Allah tetapkan dan Rasulullah jalankan, bahkan diluar nalar akal manusia. Tentu saja perbuatan tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan ulama dan orang awam. Terjadinya perdebatan panjang antara syariat dan hakikat dipicu oleh perbedaan sudut pandang dalam melihat objek. Lalu bagaimanakah seharusnya seorang muslim menyikapi fenomena tersebut diatas?. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu makna tentang syari’at dan hakekat.

Makna Syari’at dan Hakekat

Islam adalah satu-satunya agama yang mampu merangkul seluruh manusia, bahkan memberikan keteduhan, keselamatan, kesejahteraan bagi siapa saja, tanpa memandang sekat dan pangkat rekayasa budaya-sosial masyarakat. Pun, Islam mampu mengelaborasi dua nilai penting dalam perjalanan hidup diri manusia, yaitu syari’at dan hakekat.

Syari’at adalah sebuah jalan yang Allah sediakan untuk menuju pintu-pintu rahmat-Nya, artinya manusia harus mau berjalan dan menempuh perjalanan, mengalami proses. Syariat adalah apa yang Allah taklifkan (bebankan) kepada manusia dan menjadi keharusan, bahkan kebutuhan, sebelum manusia memasuki nilai hakikat dirinya.

Hakekat adalah pintu yang Allah bukakan bagi manusia yang mau melampaui perjalanan dan mengalami proses. Allah tidak membebankan pintu itu kepada seluruh manusia, karena Allah Maha Rahman, Maha Rahim, Dia sudah merasa bungah dan menghargai setiap manusia yang mau berjalan, walaupun belum atau bahkan tidak pernah sampai ke pintu.

Singkatnya syari’at itu adalah jalan, aturan, tatacara, prosedur. Akhirnya adalah hakikat yaitu tujuan, esensi, atau substansi. Imam al-Ghazali mengungkapkan bahwa, titik mula ibadah disebut syari’at. Sedangkan tujuan akhirnya yaitu hakikat segala sesuatu. Hakikat adalah buah dari syari’at secara simultan.

Cara Memandang Syari’at dan Hakekat

Perlu kita pahami, bahwa kisah perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidlir alaihima salam yang terekam di dalam Al-Quran adalah pelajaran dari Allah kepada manusia tentang dua nilai yang sesungguhnya menjadi kesatuan dalam diri manusia. Keduanya patut diupayakan oleh manusia sebagai khalifah dan hamba.

Kisah tersebut bukan dalam rangka dipertentangkan atau diperbandingkan manakah yang lebih benar. Apa yang dilakukan oleh Nabi Musa adalah benar karena tugas manusia sebagai khalifah, bahwa apa yang menjadi keputusan Nabi Khidlir untuk membunuh seorang anak, menenggelamkan perahu dan menolak hak upah dari upaya mendirikan rumah. Adalah tidak tepat jika kemampuan manusia sebagai khalifah tidak diupayakan sebagaimana mestinya.

Maka, apa yang dibantah oleh Nabi Musa adalah sebab manusia, baik secara individu maupun sosial, harus terlebih dahulu menjiwai dan menghidupkan nilai syariat di dalam dirinya.

Kemudian, apa yang dilakukan oleh Nabi Khidlir adalah kemampuan interaksi khusus manusia sebagai hamba dengan Allah. Maka, kebijakan tersebut tidak bisa dijadikan acuan umum sebuah masyarakat tertentu. Itulah nilai hakekat, ia akan lahir dari dalam diri manusia kalau sudah mampu menghayati dan melampaui nilai syari’at.

Didalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa latar belakang kisah (Nabi Khidir) ini bermula ketika Nabi Musa as merasa dialah yang paling berilmu dan ilmunya tidak dinisbatkan kepada Allah. Maka dari itu Allah menegurnya.

Telah menceritakan kepada kami Ubay ibnu Ka’b r.a., bahwa ia pernah mende­ngar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Musa berdiri berkhotbah di hadapan kaum Bani Israil, lalu ia bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang yang paling alim (berilmu)?’ (Tiada seorang pun dari mereka yang menjawab), dan Musa berkata, ‘Akulah orang yang paling alim‘.” Maka Allah menegurnya karena ia tidak menisbatkan ilmu kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Sesungguhnya Aku mem­punyai seorang hamba yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan, dia lebih alim daripada kamu.Musa bertanya, “Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya saya dapat bersua dengannya?” Allah Swt. berfirman, “Bawalah besertamu ikan, lalu masukkan ikan itu ke dalam kembu (wadah ikan). Manakala kamu merasa kehilangan ikan itu, maka dia berada di tempat tersebut…………(HR. Imam Al Bukhari)

Setelah Nabi Musa menjalani perjalanannya dengan Nabi Khidir maka Nabi ‘’Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dan kamu, kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya.” (Al-Kahfi: 77-78)

Dan ketika Nabi Khidir telah memberitahukan kepada Nabi Musa tentang perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan, yang menurut Nabi Musa perbuatannya itu menyalahi syari’at. Kemudian Nabi Khidir berkata (dalam firman Allah) : “……dan bukanlah aku melakukannya itu menuruti kemauanku sendiri”. (Al-Kahfi: 82)

Artinya apa yang Nabi Khidir lakukan dalam ketiga peristiwa (Kisah lengkapnya di Q.S Al Kahfi ayat 60-82) tiada lain merupakan rahmat Allah kepada para pemilik bahtera, orang tua si anak, dan kedua anak lelaki yang saleh. Nabi Khidir melakukannya bukanlah atas kemauannya sendiri, melainkan beliau diperintahkan untuk melakukannya dan Nabi Khidir mengerjakannya sesuai dengan apa yang diperintahkan.

Kehidupan sehari-hari manusia, sesungguhnya selalu terkait dengan nilai keduanya. Manusia harus belajar, manusia harus bekerja, manusia harus makan, manusia harus minum, manusia harus tidur, dan aktivitas alamiah lainnya adalah implementasi dari nilai syariat.

Belajar itu syariat, pintar itu hakikat. Manusia harus mengupayakan dirinya untuk terus belajar, sebab yang kelak manusia pertanggungjawabkan di hadapan Allah adalah apakah manusia mau belajar, bukan apakah manusia sudah pintar.

Bekerja itu syariat, kaya itu hakikat. Manusia harus menjiwai dirinya untuk sungguh–sungguh bekerja, sebab yang kelak manusia pertanggungjawabkan di hadapan Allah adalah apakah manusia mau bekerja, bukan apakah manusia sudah kaya.

Menanam itu syariat, memanen itu hakikat. Manusia harus membiasakan dirinya untuk menanam, sebab yang kelak manusia pertanggungjawabkan adalah apakah manusia mau menanam dan menyiram, bukan apakah manusia sudah memanen.

Syariat adalah mendayagunakan kesempatan, kemauan dan kemampuan berjalan sesungguh, setangguh dan sebaik mungkin menuju kemungkinan dan kepastian rahmat Allah.

Hakikat adalah titik temu terdekat dengan kemungkinan dan kepastian rahmat Allah. Allah Maha Menghargai dan Menghormati kepada manusia yang mau menghargai dan menghormati dirinya sendiri, mau berjuang menemukan dirinya, mau bersungguh-sungguh menempuh perjalanan dirinya. Sebab, jiwa yang tidak tumbuh sebagai pejalan, diduga ia sedang tersesat. Sama halnya dengan manusia yang butuh menjadi pintar, namun ia tidak mau belajar. Bukankah itu adalah ketersesatan?

Syubhat (Kerancuan) tentang Hakekat

Setelah menilik fenomena-fenomena yang terjadi di kalangan pelaku ibadah yang menyelisihi syari’at, sebenarnya mereka adalah sekelompok manusia yang beribadah secara berlebihan, dengan berbagai tata cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw. Sikap beribadah secara berlebihan sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad masih hidup. Apalagi zaman sekarang yang semakin jauh dari zaman Nabi, tentu lebih banyak lagi pelakunya. Sehingga tidak heran jika dimasa sekarang banyak muncul syubhat-syubhat tentang hakekat.

Diantaranya syubhat perkataan Ibnu ‘’Ajibah, dia berkata: ‘’Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah saw dengan membawa ilmu syariat. Ketika ilmu itu telah mantap, turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakekat. Beliau pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khusus saja.

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘’Ali Al-Jami rahimahullah  berkomentar : ‘’Perkataan Ibnu ‘’Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah saw. Dengan kedustaan, ia  menuduh bahwa beliau menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya:

‘’Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.’’(Q.S. Al Maidah: 67)

Dari Abu Thufail ‘’Amir bin Watsilah rahimahullah. Ia berkata: ‘’Suatu saat aku pernah berada di sisi ‘’Ali bin Abi Thalib ra. Maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: ‘’Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi saw kepadamu?

 Maka ‘’Ali pun marah lalu mengatakan: “Nabi saw belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia!”……. (HR. Muslim)

Dari ayat diatas kita tahu bahwa Allah Swt. berfirman seraya ber-khitab kepada hamba dan Rasul-Nya yaitu Nabi Muhammad Saw. dengan menyebut kedudukannya sebagai seorang Rasul. Allah memerintahkan kepadanya untuk menyam­paikan semua yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah Saw. telah menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq, dari ‘’Aisyah r.a. yang mengatakan, “Barang siapa yang mengatakan bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan oleh Allah kepadanya, sesungguhnya dia telah berdusta,” seraya membacakan firman-Nya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Maidah: 67). hingga akhir ayat.

Demikianlah bunyi riwayat ini secara ringkas, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkannya di berbagai tempat dalam kitab Sahih masing-masing secara panjang lebar.

Penutup

Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa syari’at dan hakekat merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, untuk meraih hakekat sesuatu maka kita harus menjalankan syari’at. Kemudian, jika muncul pertanyaan: Bagaimana caranya untuk mencapai hakekat?. Maka jawabannya, sangat sederhana, yaitu pelajari dan amalkan syari’at Islam lahir dan batin; dengan itulah kita insya Allah akan mencapai hakekat.

Orang yang melaksanakan shalat, syari’atnya dia harus takbiratul ihram, ruku, I’tidal, sujud dsb., akan tetapi secara hakekat dia ingat Allah. Karena hakekatnya shalat itu untuk mengingat Allah.

.maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Q.S Thaha: 14)

Pelaku syubhat terhadap hakekat biasanya menggunakan ayat diatas sebagai dasar landasan, tapi kemudian dipahami secara terbalik. Dia memahaminya bahwa setiap ingat kepada Allah itulah yang ia sebut sebagai shalat, maka tidak heran kemudian muncul orang yang shalatnya tidak sesuai dengan syari’at yang Nabi saw ajarkan kepada umatnya.

Perlu diingat juga bahwa, jika ada orang Indonesia yang mengaku setiap Jum’atan shalatnya di Masjidil Harom, maka sungguh dia telah berdusta. Karena waktu di Indonesia dengan Makkah memiliki perbedaan waktu lima jam. Artinya jika di Indonesia pukul 12.00 siang (waktu shalat Jum’at), maka di Makkah baru jam 7.00 pagi, dan disana tentu belum masuk waktu shalat jum’at.

Semoga Allah berkenan memberikan taufik kepada saudara-saudara kita yang meninggalkan jalan yang lurus agar mereka kembali menuju jalan yang lurus itu kembali. Alangkah senangnya hati kita jika saudara-saudara kita mendapatkan hidayah, sebagaimana kita juga meminta kepada-Nya dengan nama-namaNya yang terindah dan sifat-sifatNya yang maha tinggi untuk mewafatkan kita di atas jalan yang lurus itu dalam keadaan Allah meridhai kita dan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa.

Ditulis Oleh : Al-Ustadz Asep Subandi

Kabar Terbaru

Pesan dan Nasehat Oleh Bapak Pimpinan Pondok Modern Daarul Abroor Menjelang Liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Tak terasa tinggal menghitung hari, Bulan Suci Ramadhan akan meninggalkan umat islam semua. Itu artinya hari kemenangan segera tiba,...

Informasi Lainnya

X