Kolom Ustadz

Beribadah Di Antara Ifrath Dan Tafrith

Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melakukannya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. H.R. Muslim

Sikap bersemangat dalam beribadah merupakan hal yang baik jika berada dalam bingkai syari’at Islam yang benar. Namun lain halnya jika sikap semangat beribadah terlalu berlebihan sehingga keluar dari bingkai dan rel syari’at Islam.

Anas bin Malik r.a berkisah, ada tiga orang datang menemui istri-istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah Nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat  kecil dan ringan.

Orang pertama pun bertekad dan menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya dengan tujuan agar bisa fokus dan leluasa dalam beribadah.

Ketika mendengar niat ketiga orang itu, Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara di sisi lain munculnya fenomena lemah motivasi dalam beribadah. Hingga mereka bermalas-malasan dan enggan menerima kebenaran dari orang lain. Kemudian yang terjadi berikutnya adalah pengurangan takaran ibadah atau bahkan menghilangkan sebagian darinya. Sering kali bersikap acuh dan tidak peduli dengan kesempurnaan ibadah. Ditandai pula dengan sering melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Lebih parah lagi, ketika dalam benaknya terlintas bahwa ibadah kepada Allah bukanlah prioritas utama. Sikap seperti ini kemudian dikenal sebagai tafrith. Dalam istilah aqidah dipahami sebagai sikap kelalaian terhadap tuntunan syariat Islam.

Di zaman Nabi telah muncul pula gelagat orang yang bermalas-malasan dan bersikap abai (tafrith) terhadap tuntunan syariat. Salah satu contohnya adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab ketika beliau sholat subuh bersama Nabi, kemudian Nabi bertanya; “Apakah fulan hadir dalam sholat ini? Lalu para sahabat menjawab: “Tidak”. Kemudian beliau bersabda:

Sesungguhnya dua shalat ini (isya dan subuh) adalah sholat terberat bagi orang-orang munafik. Jikalau mereka mengetahui (kebaikan) yang ada di kedua waktu tersebut pastilah mereka akan menhadirinya walaupun harus merangkak di atas lutut. Sesungguhnya barisan pertama (dalam sholat) seperti barisan para malaikat, kalau kalian mengetahui apa yang menjadi keutamaannya niscaya kalian akan bergegas mendatanginya. Sesungguhnya shalatnya seseorang bersama satu orang lain lebih suci dari shalat sendirian dan sholat seseorang dengan dua orang lain lebih suci dibanding dengan sholat bersama satu orang lain dan yang lebih banyak lebih dicintai Allah”. (HR. Abu Dawud)

Sikap bermalas-malasan dan abai terhadap tuntunan syariat merupakan celah besar yang bisa menggelincirkan seseorang dalam jurang kemunafikan dan kekufuran. Disadari atau tidak, sikap tafrith bisa mendorong terjadinya pengurangan takaran ibadah yang berujung pada terkikisnya iman.

Baca juga : Pengertian sederhana

Pada hakikatnya, Islam juga melarang orang untuk meremehkan ajaran dan perintah agama. Orang meremehkan perintah agama juga akan jatuh kepada kekeliruan. Ajaran Islam merupakan ajaran yang lurus, tidak ifrath tidak pula tafrith. Karakter ini menyangkut setiap aspek, baik keyakinan, ibadah, akhalk, muamalah, dan kehidupan sehari-hari.

Ifrath dan Tafrith Keduanya Menyimpang

Rasulullah saw menggurat sebuah garis dengan tangannya seraya mengatakan inilah jalan Allah yang lurus. Setelah itu, di samping kiri dan kanan garis yang digurat tadi, beliau membuat guratan-guratan lain, lantas beliau katakan : Inilah berbagai jalan yang tiada satu jalan pun padanya melainkan setan pasti mengajak kearah jalan itu. Kemudian Nabi membaca surat al An’am ayat ke 153
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.

Al-Hafidz Ibnu Katsir penukilnya dari Imam Ahmad saat menafsirkan ayat tersebut dalam kitab tafsirnya sebagai berikut: Peristiwa di atas adalah berita kenabian yang umat seharusnya mengambil pelajaran daripadanya. Kita diperintahkan untuk berpijak dengan kokoh di atas jalanNya serta sabar untuk tidak tergoda mengikuti jalan yang tidak dibimbing dan diridhai-Nya. Sungguhpun demikian pada kenyataannya banyak manusia yang tersesat dalam dua kutub ekstrem, Ifrath dan Tafrith.

Ifrath adalah sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama. Sebagai misal Ifrath dalam Ibadah, yaitu mewajibkan dirinya kepada sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah. Mengharamkan sesuatu untuk dirinya, padahal Allah tidak pernah mengharamkan untuknya, atau ada pula yang terlalu berlebihan melaksanakan ibadah sunnah tapi kewajiban-kewajibannya dilalaikan. Seperti mengharamkan dirinya untuk tidak menikahi wanita dengan tujuan untuk beribadah secara total. Sikap seperti ini meski maksudnya baik, akan tetapi karena melampaui batas, maka sikap tersebut mengeluarkan dari jalur kebenaran.

Seperti kisah diatas yaitu para sahabat Nabi Muhammad yang mengaku di depan Nabi bahwa dia shalat malam tidak berhenti-berhenti, puasa setiap hari dan beribadah terus sampai tidak menikah. Rasulullah pun terperangah dengan sikap ekstrim tersebut. Beliau melarang sikap tersebut. Beliau memberi saran, cukup laksanakan apa yang telah diperintahkan syariat.

Adapun Tafrith, adalah sikap yang meremehkan dan bermudah-mudah terhadap perkara agama. Sikap ini paduan dari cara berfikir liar dan kemalasan dalam beramal.

Sikap tafrith inilah yang mengantarkan pada sebuah prinsip liberal: “Cara pandang umat Islam pada agamanya harus seperti cara Barat dalam memahami agama mereka”, yaitu mereka memandang agamanya dengan mendahulukan keraguan akan keotentikan teks-teks agama mereka. Inilah yang dijejalkan orientalis kepada umat Islam yang kemudian diamini oleh para pengikutnya di kalangan umat Islam. Hal lainnya adalah bagaimana agar Barat dan komunitas non-Islam tidak merasa terganggu dengan keislaman kita.

Islam yang ingin ditampilkan adalah Islam yang toleran, tidak marahan dan Islam kalahan. Ketika barat membicarakan kesetaraan gender, para ahlul Tafrith sibuk mencari dalil yang dimasukan kendati harus menggusur prinsip-prinsip agama ini. Ketika Barat gerah dengan semakin banyaknya umat Islam yang konsekuen untuk beramal dengan agamanya, mereka melemparkan wacana normatif dan esensial.

Ifrath dan tafrith menjadi dua pangkal penyimpangan yang selalu menjadi penyebab rusak dan binasanya suatu kaum. Berawal dari dua sikap inilah sebuah tuntunan syariat akan rusak yang kemudian disusul pula dengan rusaknya tatanan masyarakat. Tidak mengherankan jika dua perkara tersebut menjadi strategi jitu bagi iblis dan bala tentaranya dalam menyesatkan hamba-hamba yang beriman.

Sebab Munculnya Virus Ifrath dan Tafrith

Ifrath dan Tafrith bak virus yang menjalar dengan cepat ke segala sendi-sendi organ manusia, jika ifrath dan tafrith sudah menggerogoti sendi-sendi kehidupan beragama bahkan menjadi perbuatan yang terbiasa dilakukan sehingga menjadi keyakinan. Maka sulit untuk mencari formula obat penawar dan menyembuhkannya. Virus ifrath dan tafrith biasanya diawali dengan sesuatu yang sepele namun dalam waktu singkat akan digandrungi sehingga kemudian meluas. Orang-orang yang bersikap ifrath dan tafrith dalam agama akan berbicara tentang Allah Azza wa Jalla tanpa haq, tentang agama tanpa ilmu, sehingga akhirnya mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Sikap inilah yang merupakan penyebab munculnya seluruh penyimpangan dalam agama, demikian juga penyimpangan dalam sikap dan perbuatan melaksanakan ibadah.

Sebab-sebab munculnya sikap ini di antaranya: (1). Kebodohan dalam agama. Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. (2). Taqlid (ikut-ikutan). Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyimpang. (3). Mengikuti hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat. (4). Berdalil dengan hadits-hadits palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i.

Bertauhid dengan Beribadah

Ibadah merupakan manifestasi dari tauhid uluhiyyah dan ini adalah inti dakwah para Rasul. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa, nazar, qurban, raja’, takut, tawakkal, senang dan taubat. Setiap Rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyyah sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan yang lainnya: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Illah (yang hak) bagimu selain-Nya” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

Orang yang bertauhid sudah pasti dia melakukan ibadah sedangkan orang yang melakukan ibadah belum tentu ia bertauhid. Orang yang bertauhid mengabdi kepada Allah dengan gerak dan diamnya jiwa raga, beribadah hanya kepada-Nya, karena tiada yang pantas diibadahi kecuali Allah. “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melakukannya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Sebagai sebuah agama, Islam telah lengkap dan sempurna. Keberadaannya tidak perlu ada penambahan dan pengurangan. Dalam amar ma’ruf nahi munkar, penegakan syariat dan prinsip utama lainnya semuanya telah ada contoh dan bimbingan yang sempurna.

Adalah kewajiban setiap muslim untuk menegakan syariat agama ini pada dirinya, lingkungannya, masyarakatnya dan negerinya. Allah SWT berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (al-Ma’idah: 3)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali Imran: 85)

Ditulis oleh : Al Ustadz Asep Subandi

Back to top button
Close
X