Kolom Ustadz

Berdikari, Sebagai Kunci Kesuksesan

الإِعْتِمَادُ عَلَى النَّفْسِ أَسَاسُ النَّجَاحِ

Bergantung pada diri sendiri adalah pokok kesuksesan

Berdikari atau dengan bahasa lain “Self Sufficiency” memiliki kesamaan arti dengan mandiri. Berdikari merupakan kemampuan berdiri diatas kaki sendiri, tidak bergantung pada bantuan orang lain. Allah Al Qadir memberikan kemampuan pada diri kita masing-masing sesuai kadar dan ukuran. Dengan kemampuan tersebutlah kita bisa berdikari / mandiri dan bisa menyelesaikan segala masalah yang dihadapi. “Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya (Al Baqarah: 286).

Mandiri merupakan aspek kepribadian yang sangat penting dalam membentuk jiwa yang mampu menghadapi segala permasalahan. Karena jiwa mandiri tidak bertumpu pada orang lain, selalu berusaha memecahkan masalah yang ada.

Lihatlah bagaimana dahulu Abdurrahman bin Auf berangkat ke Madinah dan meninggalkan Makkah dalam keadaan miskin papa, hartanya hanya yang melekat pada badannya. Saudara seimannya yakni Sa’d bin Rabi’ memberi tawaran yang menggiurkan pada Abdurrahman, Saudaraku, aku seorang terkaya di Madinah. Ambillah separuh hartaku yang kau suka, aku juga memiliki dua istri, pilih yang kau suka, dan nikahilah! Abdurrahman bin Auf menjawab, Semoga Allah melimpahkan berkahNya padamu juga pada keluarga dan hartamu. Saya hanya bermohon agar ditunjukkan arah pasar.

Ia pun lalu berangkat ke pasar, melakukan jual-beli, hingga mendapatkan keuntungan yang besar. Begitulah sosok Abdurrahman, tidak pendek akal, tetapi hidupnya penuh dengan misi dan kemandirian. Dan semua kewajiban agama ia laksanakan, sehingga sukses dalam berjuang dan berdakwah, sebuah teladan agung bagi kita semua.

Bisnisnya sukses karena sangat memperhatikan kehalalan hartanya, serta proses mendapatkannya. Ia tidak mau melakukan yang syubhat alias tidak jelas kehalalannya. Ia pun semakin sukses dan berkah. Harta yang ia peroleh tidak untuk ditumpuk-tumpuk sebanyak mungkin, tapi demi perjuangan agama, termasuk sebagai logistik pasukan perang kaum Muslimin.

Beternak Malas

Setiap insan mengalami masa semangat dan rasa malas. Hanya saja seberapa kuatkah kita melawan rasa malas ketika melandanya. Orang yang menuruti hawa nafsunya ia akan menuruti rasa malas yang datang, jika terus-menerus dituruti, malas tersebut akan menjadi bagian dari hidupnya. Syekh Shaleh Ahmad Asy-Syami, mengatakan “Allah membenci sikap lemah, tidak mampu dan malas”. Sebab, jika seseorang tidak mampu, apalagi malas melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya dan masyarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan dan hanya menumpuk kata “seandainya…..”.  Kata ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak. Nabi Muhammad saw sangat tidak menyukai kata-kata “seandainya…..”. “Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan”. (Al Hadits).  Sikap seperti inilah yang membuat terpasungnya kemampuan dan membungkam azam yang tumbuh dalam dada. Belenggu-belenggu itu berkembang biak dan terus menumpuk sehingga potensi diri tidak lahir dalam bentuk amal.

Ada yang memiliki kemampuan sayang tak punya kemauan, ada yang punya kemauan tapi tidak memiliki kemampuan. Apa yang diharapkan dari orang yang malas? Hanya akan menularkan kemalasan kepada yang lain. Tak usah berpikir urusan yang lain, mulailah mengurusi diri sendiri. Ada yang berkata: “Bagaimana mengurus anak orang, makan saja orang lain yang ngurusin”. Memasak makanan bagi sebagian orang merupakan sepele, tetapi itu sesuatu yang sulit bagi orang yang tidak terbiasa memasak walaupun untuk makan sendiri. Membicarakan orang-orang yang malas memang tak akan habis dibahas, orang malas senantiasa membuat seribu alasan untuk menutupi kemalasannya. Namun perlulah kita mengambil ibrah dari sebuah hikayat.

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Dia mengeluh, “Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, sepertinya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi tadi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang belas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Ketika dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Kemudian, si malang merasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas dia tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secarik kertas yang bertulis, ” Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus.”

Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu terdengar lagi, “Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku”

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang ketika mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

Baca juga : Beribadah Di Antara Ifrath Dan Tafrith

Seperti dulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada secarik kertas lalu dibacanya, “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian “malas” namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Allah melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian. Jika anda ingin senang, anda harus suka pada bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak disuruh duduk diam dan tidak seharusnya demikian pula tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Oleh sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan cepat berjaya.”

Setelah selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sadar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikuti peraturan-peraturan hidup (Sunnah Allah) dan tidak lagi melupakan nasihat orang yang memberikan nasihat itu.

Dalam Islam tidak boleh ada istilah nganggur, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang malas dan berakal sempit. Islam mengajarkan kita untuk maju ke depan dan bukan mengajarkan kepada kita berdiam diri. Seorang pujangga berkata :

Kalau diri malas kerja, itu pertanda diri manja
Jika kerja disertai malas, tentu kerja tidak berbekas
Bila guru malas mendidik, bagaimana murid jadi cerdik
Buang segera sifat malas, hidup ini mesti terasa puas

Mandiri itu Butuh Proses

Kemandirian merupakan sesuatu hal yang paling mendasar bagi setiap manusia, baik yang tua maupun yang masih muda, terutama sekali bagi remaja-remaja yang merupakan penerus generasi kehidupan beragama dan bernegara. Tetapi kemandirian tidak bisa didapat dengan cara instan, ia harus dimulai dari usia dini sehingga sudah bisa leluasa di usia produktif. Mandiri merupakan sifat para Nabi dan orang-orang yang shalih, mereka mencukupi kebutuhan diri dan keluarga dengan usahanya sendiri.

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. ﴿رواه البخاري﴾

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Daud As. makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” (HR. Al-Bukhari).

Orang yang tampil mandiri berarti memiliki sikap yang bertanggung jawab terhadap amanah yang diembannya dan terhadap yang telah ia lakukan. Ia juga mampu mengatasi kesulitan sendiri, mampu menyelesaikan masalahnya sendiri meskipun pada awalnya terasa sulit.

Kalau kita menelusuri jejak hidup Nabi Muhammad saw, akan kita temukan dalam perjalanan hidupnya penuh onak dan duri, tak luput dari ujian sebagai gemblengan proses menuju manusia yang mandiri. Beliau dilahirkan sebagai anak yatim, karena Abdullah ayahnya wafat sebelum Rasulullah lahir, beberapa tahun setelah menghabiskan waktu dengan ibunda tercinta, Aminah, Nabi kemudian dibesarkan oleh kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Sayang umur kakeknya pun juga hanya sebentar, Abdul Muthalib meninggal dan Nabi diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Di usia 12 tahun, Rasulullah SAW sudah mulai magang di perdagangan yang dijalankan pamannya, Abu Thalib. Tidak tanggung-tanggung, perdagangan yang dijalankannya adalah perdagangan antar negara, yaitu Syam. Hal ini jugalah yang nanti akan membantu kegiatan dakwah beliau. Nabi Muhammad SAW muda bukanlah pemuda yang manja, malas, dan berpangku tangan. Di usia 17, beliau putuskan untuk hidup mandiri karena pamannya sendiri punya banyak anak dan kebutuhan. Sehingga ia mulai berdagang mandiri sejak itu. Di usia 25, beliau menikah dengan Khadijah, banyak suka duka yang dirasakan dalam rumah tangganya. Di Usia 40 beliau mendapatkan wahyu kenabian dan menyebarkan Islam. Meluruskan moral dan akhlak. Tentunya tidak mudah menyebarkan Islam di masa awal kerasulan. Setelah penentangan dari penduduk Mekah yang tiada habisnya, beliau hijrah. Sebelum penentangan kekerasan fisik, beliau pernah ditawari harta berlimpah agar meninggalkan dakwah Islam. Banyak ujian-ujian kemandirian yang dialami oleh Nabi saw, sepertinya takkan habis dibahas jika ditulis. Sungguh ujian yang dilalui Rasulullah SAW ujian berdosis tinggi, berat bobotnya pun melampaui batas manusia umumnya. Namun dengan ujian itulah beliau menjadi teladan umatnya yang patut kita tiru.

Semoga kesusahan yang menimpa diri, dibaliknya terdapat kemudahan dalam waktu yang dekat. Sakit yang dirasa laksana misi yang membawa berita gembira, sedangkan sehat bak hiasan yang mempunyai harganya sendiri. Dari satu masa kemasa yang lain, pasti ada kemudahan. Semua jalan hidup yang berliku merupakan proses membangun sebuah istana di Surga.

Ditulis oleh Al Ustadz Asep Subandi

Tags
Back to top button
Close
X