Celoteh Santri

Apa Kata Santri Tentang ‘Amaliah Tadris?

Amaliyah Tadris atau Praktek Mengajar adalah salah satu program ujian bagi Siswa Akhir Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Daarul Abroor yang telah diadakan sejak tahun 2016 silam. Kami, Siswa Akhir KMI dituntut untuk mampu mengajar sesuai dengan teori dan menyampaikan materi dengan menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Kami sadar bahwa kemampuan berbahasa Arab dan Inggris kami masih kurang. Belum lagi memahamkan santri kelas 1 dan 2 KMI yang menjadi peserta didik dalam Amaliyah Tadris tahun ini, tentu harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka. Ini merupakan kendala yang harus kami atasi.

Para calon mudarris (pengajar) akan dipanggil ke kantor KMI 4 hari sebelum Hari-H. Saat dipanggil itulah, para calon mudarris akan mengetahui materi yang akan mereka ajarkan. Materi yang diajarkan meliputi : Muthola’ah, Mahfuzhot, English Course, English Lesson, Tafsir dan Hadits. Setiap calon mudarris diharuskan membuat I’dad Tadris (Persiapan Mengajar) yang nantinya akan diberikan kepada musyrif (Ustadz Pembimbing) untuk dikoreksi demi menghindari kesalahan materi yang akan diajarkan. Dalam membuat I’dad Tadris, kami mulai membuatnya sejak sore hari  setelah pemanggilan sampai larut malam. Saat membuat I’dad Tadris, kami terkadang membuatnya bersama teman yang pernah mengajar pelajaran Muthola’ah Sore dan English Course kelas 1 KMI, yang kami anggap sudah berpengalaman dalam membuat I’dad Tadris selain dari buku Tarbiyah Amaliyah. Rasa pusing, mengantuk, dan frustasi menjadi satu saat membuat I’dad Tadris. Bahkan ada salah seorang dari kami yang matanya berkaca-kaca karena nyaris putus asa dalam membuat I’dad Tadris yang harus ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Setelah membuat I’dad Tadris, kami menyerahkannya kepada musyrif untuk dikoreksi. Apabila ada koreksian dari musyrif akan segera kami perbaiki dan diberikan kembali kepada musyrif sebelum dibawa ke kantor KMI untuk distempel. Setelah I’dad telah distempel, kami langsung praktek di hadapan teman kami untuk membiasakan diri ketika waktu mengajar tiba.

Ketika waktu mengajar tiba, sebagian dari kami merasa gerogi karena mengajar di depan para santri, musyrif dan teman-teman yang bertugas menjadi muntaqid (pengoreksi). Keadaan kami bemacam-macam saat mengajar. Ada yang salah tingkah, ada yang keringat dinginnya mengucur deras, ada yang lupa urutan cara mengajar sesuai I’dad, ada yang kakinya gemetaran dan lain sebagainya. Setelah selesai mengajar, rasanya seperti burung yang lepas dari kurungan, walaupun setelah mengajar masih ada Darsun Naqed (Pengoreksian) yang menentukan kelulusan mudarris, apakah lulus atau mengulang lagi. Di Darsun Naqed, yang di koreksi antara lain: Thoriqoh(Cara Penyampaian), Maddah(Materi), Ahwalul Mudarris(Keadaan Pengajar saat mengajar) dan Alhanul Mudarris(Kesalahan Pengucapan dari Pengajar saat mengajar). Saat Darsun Naqed, kami mengutarakan kesalahan mudarris pada saat mengajar. Beberapa diantara kami ada yang mengulang prakteknya, namun kebanyakan dari kami lulus Amaliyah Tadris.

Kami sadar bahwa Amaliyah Tadris ini bukan hanya “pengasah” kemampuan kami dalam mendidik secara formal di kelas, namun untuk menumbuhkan “Jiwa Mendidik” pada diri kami sesuai dengan sebuah pepatah, At thoriqotu ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minat  thoriqoh, wa ruhut tadris ahammu min kulli syai’, Cara lebih penting daripada materi, pengajar lebih penting daripada cara dan Jiwa Mendidik lebih penting dari segala sesuatu.[Mardha Affandhi – 6B]

Tags
Close
Close
X