Kolom Ustadz

1 Muharram; Sebuah Catatan Kecil

Tanggal 1 Muharam merupakan tanggal dimana umat Islam merayakannya sebagai tahun baru Islam. Tiap tahunnya, Umat Islam merayakannya dengan penuh semangat yang tersalurkan dalam kegiatan-kegiatan seperti tadarus serta sima’an, mendengar ceramah di tabligh akbar, do’a/dzikir bersama, dll.

Walau harus diakui, ada perbedaan di kalangan ummat terkait hijrah Rasul. Ada yang mengatakan di bulan Muharram ada juga yang mengatakan di bulan Rabi’ul Awwal. Terlepas dari hal ini, bukan perbedaan dan perdebatan yang akan kita bahas, tetapi bagaimana kita memaknai dan mengambil hikmah dari 1 Muharam yang sebagai awal tahun baru Hijriah/ Islam.

Sebagaimana maklum, bahwa hijrahnya Rasul ke Madinah merupakan awal dari kebangkitan Islam. Setelah melakukan da’wahnya di Makkah dengan penuh kesabaran dari berbagai cobaan yang dilakukan oleh para Musyrikin Quraisy, akhirnya Allah memerintahkan Nabi dan para Sahabat untuk berhijrah ke Madinah. Karena ini adalah perintah Allah, maka tak heran hanya dalam waktu tak lama Islam berkembang begitu pesat. Hijrah Rasul bukan semata ide dari Rasul, tetapi merupakan perintah Allah yang pasti terkandung makna dibalik semuanya. Hingga Hijrah bisa dimaknai meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasulnya, demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Jika kita kaitkan makna hijrah dengan konteks kekinian khususnya Indonesia, apa yang dilakukan rasul yakni hijrah dari Makkah ke Madinah mungkin tidak bisa kita lakukan, tetapi jelas hijrah mengandung hikmah yang luar biasa. Beberapa Ulama menjelaskan bahwa makna hijrah adalah meninggalkan Negeri (keadaan) syirik menuju negeri Tauhid, meninggalkan keadaan bid’ah menuju keadaan Sunnah, serta hijrah (meninggalkan) keadaan yang penuh maksiat menuju kekeadaan yang sedikit maksiat. Firman Allah SWT:

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 100)

Tak dipungkiri bahwa momen (waktu), adalah sesuatu yang spesial yang bisa menyadarkan kita dari “kelelapan tidur”. Begitu pula 1 Muharam yang dijadikan awal tahun baru Islam, ia dapat dijadikan momen tepat yang dapat menyadarkan kembali manusia dari kelelapan tidurnya dari mimpi-mimpi dunia yang tak terbatas, membangunkan dari keterlenaan akan kehidupan yang fana, serta mengeluarkan dari kegelimangan maksiat. Tentu, hal ini jika kita dapat memaknai apa itu Hijrah sebagaimana yang dilakukan Rasul. Dan sudah barang tentu pula, bahwa bukan hanya 1 Muharam kita dapat “berhijrah”, setiap saat kita diwajibkan berhijrah dengan harapan mencapai yang lebih baik dalam segala hal yang diridhoi oleh Allah sebagaimana firmanNya dalam surah an-Nisa: 100, tetapi sekali lagi, momen spesial kadang lebih bisa menyadarkan kita ketimbang hal-hal yang biasa. Bismillaah… Ayo berhijrah!.

Wallahua’lam bi as-shawab

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close